Cerobong Kilang Pertamina Cemari Udara Kota Dumai

0
499

DUMAI, SUARAPERSADA.com – Cerobong Kilang PT Pertamina (Persero) RU II Dumai hari ini (Senin 23/3) mulai sekitar Pukul 15 00 Wib tampak mengeluarkan kepulan asap hitam pekat. Kepulan asap hitam tersebut terlihat terseret angin mengarah keatas pemukiman warga di Jaya Mukti Kota Dumai.Hingga berita ini diekspos, layanan informasi Pertamina belum sempat dikonfirmasi.

Sementara itu, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Pemerintah Kota (Pemko) Dumai, Bambang Suryanto menyikapi pencemaran udara yang ditimbulkan Pertamina RU II Dumai ketika dihubungi suarapersada.com menyebut pihaknya (KLH-red) besok akan menemui manajemen Pertamina terkait asap hitam itu.

Lewat Phonselnya saat di hubungi, Bambang Suryanto mengakui bahwa Pertamina katanya secara lisan sudah memberitahunya perihal asap hitam akan timbul dari cerobong kilang pertamina.

“Pada dasarnya Pertamina sudah memberitahukan kita secara lisan bahwa cerobong kilang Pertamina akan mengeluarkan asap selama sepuluh hari karena ada kerusakan pada salah satu compressor di dalam kilang. Walaupun begitu,besok saya akan kesana untuk mempertanyakan hal itu termasuk membicarakan soal kebisingan kilang”, ujar Bambang.

Menurut Bambang, atas kejadian itu katanya dia sempat menegur pihak Pertamina kenapa asap hitam yang keluar dari cerobong kilang Pertamina hingga sepuluh (10) hari lamanya dan kenapa alatnya tidak dipesan sejak lama.

“Hal ini yang akan saya konfirmasi kesana kenapa harus sepuluh hari lamanya asap itu keluar. Kita akan meminta supaya waktu perbaikan dikurangi mengingat asap itu akan terhirup masyarakat”, terang Bambang menjelaskan.

Diakui Bambang Suryanto lagi, bahwa pihaknya serba salah atas kejadian itu. Serba salah yang dimaksud Kepala KLH itu menurut Bambang karena menyangkut perizinan Pertamina semuanya dari Pusat. Artinya KLH serba salah untuk mengambil tindakan sanksi.

“Semua perizinan Pertamina dari Pusat jadi kita serba salah. Memang dari segi pengawasan dari KLH. Oleh karena itu, kita besok akan pergi ke Pertamina untuk meminta agar Pertamina paling tidak dapat meminimalisir asap keluar dari cerobong,” jelasnya.

Fenomena yang serupa “dipertontonkan” Pertamina Cerobong Pabriknya mengeluarkan asap hitam yang notabene mencemari udara Dumai terbilang sudah yang kesekian kalinya dan boleh disebut cukup kerap terjadi. Namun hal itu terkesan sepertinya dianggap biasa-biasa saja oleh Pertamina dan instansi berwenang di Kota Dumai.

Belum lepas dari ingatan publik di Kota Dumai, bahwa kemarau tahun lalu seorang ibu rumah tangga hanya karena membakar tumpukan rumput sawah yang hendak ditanami padi di sekitar lahan Kantor LAM Jalan Puteri Tujuh Dumai, harus berurusan dengan aparat Polisi alias ditangkap dan dijadikan tersangka, terdakwa hingga terpidana karena pembakaran itu.

Bagaimana dengan asap hitam pekat yang keluar dari cerobong pabrik Pertamina RU II Dumai itu, adakah “mata” aparat hukum di Dumai melihat fenomena itu sebagaimana keseriusan mereka melihat asap Karhutla di Dumai dan menangkap pelakunya..? hal ini akan menjadi pertanyaan publik di Kota Dumai. ***Tambunan

Tinggalkan Balasan