Terimakasih BUMN, Warga Pekanbaru Sudah Kenyang Makan Debu

0
329

PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Hujan yang mengguyur sebagian wilayah Pekanbaru Minggu sore (15/11) tidak berdampak sama sekali. Debu masih saja menghiasi jalan-jalan sekitar Sukajadi. Tak jarang warga secara swadaya melakukan penyiraman terhadap debu di sepanjang jalan karena kawatir mengganggu kesehatan.

Galian Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang saat ini marak di Pekanbaru, diduga menjadi penyebab, pasalnya, pemilik proyek tidak menyediakan mobil penyiram debu sebagaimana layaknya dalam pengerjaan proyek besar.

Tidak sedikit warga yang kawatir akan timbul penyakit baru seperti ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) terutama anak-anak, karena anak-anak sangat sensitif terhadap partikel-partikel debu, apalagi bayi usia 6 bulan atau anak di bawah 1 tahun. Bahkan penyakit paru-paru sangat mungkin mengancam warga Pekanbaru.

“Sudah berulangkali diingatkan kepada pihak pekerja di lapangan, namun, jawaban mereka tak jelas,” keluh Samsul Hadi seorang warga jalan Teratai atas, Sukajadi, Pekanbaru (16/11).

Katanya, “kalau ditanya sama pekerja di lapangan, jawabannya, kami hanya pekerja pak, tidak tahu menahu soal mobil penyiram atau yang lainnya, karena itu urusan pimpinan, begitu jawaban mereka,” ungkap Samsul.

Lain halnya dengan Baktiar warga jalan Balam, Sukajadi, dirinya mengaku sudah capek ngomong sama kontraktor terkait permasalahan ini, sepertinya mereka sudah kebal.

“Capek kita Pak, nanti dikira kita keberatan ada proyek ini, padahal tujuan kita bagaimana proyek ini berjalan dengan baik dan lancar, tapi jangan abaikan kesehatan warga,” ujar Baktiar yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang.

Lagi kata Baktiar, “setahu kita kalau ada proyek yang langsung bersentuhan dengan warga, seperti penimbunan, pekerjaan jalan yang berpotensi menimbulkan debu, biasanya ada anggaran untuk penyiraman,” katanya dengan senyum simpul.

Masih menurutnya, “kemana pemerintah Kota, Camat, Lurah, RW, RT atau anggota dewan ? warga sedang menderita akibat debu dan kemacetan yang berulang-ulang, kok dibiarkan?” ungkapnya heran.

Katanya lagi, Perusahaan ini pasti meraup keuntungan besar, sementara warga makan debu setiap hari, apalagi saat pandemi covid-19 rakyat makin sulit.

Sementara itu, Pimpinan PT Hutama Karya (HK) dan Wijaya Karya (WK) tak pernah bisa ditemui dilokasi proyek.**(Batara)

Tinggalkan Balasan