BAGANSIAPIAPI, SUARAPERSADA.com – Bagansiapiapi pada zaman Penjajahan Hindia Belanda merupakan satu Daerah terkenal penghasil ikan nomor 2 Didunia. Eks Kewedanaan Bagansiapiapi kini adalah Ibukota Negeri Seribu Kubah, yaitu Kabupaten Rokan Hilir setelah berhasil dimekarkan terpisah dari Kabupaten Bengkalis sejak 4 Oktober1999.

Bagansiapiapi yang didiami berbagai suku, termasuk suku Tionghua hampir 30 persen menampilkan sebuah tradisi yang berpotensi besar menjadi objek wisata untuk kota Bagansiapiapi. Bahkan tradisi suku Tinghua tersebut membuat Rokan Hilir menjadi dikenal di Indonesia bahkan Dunia. Tradisi yang mapu menyedot ribuan Wisatawan itu adalah Ritual Bakar Tongkang.
Berkat dukungan Pemkab Rohil, jadi berskala Nasional dan Internasional, dukaungan itu antaralain, bantuan APBD Rohil serta menghadirkan pejabat pejabat penting, baik dari Pusat maupun Propinsi.
Sejarah Eks Kewedanaan Bagansiapiapi terdiri dari tiga wilayah kenegerian yaitu negeri Kubu, Bangko dan Tanah Putih yang masing-masing dipimpin seorang Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, wilayah kewedanaan Bagansiapiapi yang meliputi Kubu, Bangko dan Tanah Putih, dibawah naungan Pemerintahan Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Selanjutnya bekas wilayah Kewedanaan Bagansiapiapi, yang terdiri dari Kecamatan Tanah Putih, Kubu dan Bangko pada tanggal 4 Oktober 1999 ditetapkan sebagai sebuah kabupaten baru di Provinsi Riau sesuai dengan UU RI Nomor 53 tahun 1999 ibukota Rokan Hilir adalah Ujung Tanjung. Sedangkan Bagansiapiapi ditetapkan sebagai ibu kota sementara.
Namun karena kondisi infrastruktur di Ujung Tanjung yang masih merupakan sebuah desa di Kecamatan Tanah Putih belum memungkinkan untuk dijadikan sebagai sebuah ibu kota Kabupaten, maka akhirnya Bagansiapiapi, dengan infrastruktur kota yang jauh lebih baik, pada tanggal 24 Juni 2008 resmi ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Rokan Hilir yang sah.
Menurut cerita masyarakat Bagansiapiapi secara turun temurun, nama Bagansiapiapi erat kaitannya dengan cerita awal kedatangan orang Tionghua ke kota itu. Disebutkan bahwa orang Tionghoa yang pertama sekali datang ke Bagansiapiapi Dalam cerita dimaksud disebutkan bahwa pelarian tersebut dilakukan dengan menggunakan tiga perahu kayu (tongkang).

Kejadian-kejadian selama dalam perjalanan menyebabkan hanya satu tongkang yang selamat sampai di darat bersama 17 orang penumpang lainnya. Tongkang yang selamat ini kebe tulan membawa serta patung Dewa Ki Ong Ya diletakkan dalam rumah tongkang.
Menurut keyakinan mereka, patung-patung ini akan memberi keselamatan selama berlayar dan terdampar dbagansiapiapi, Setelah mereka melihat cahaya api yang berkerlap-kerlip sebagai tanda adanya daratan. Cahaya api itu ternyata berasal dari kunang-kunang (si api-api) yang bertebaran di antara hutan bakau yang tumbuh subur di tepi pantai Sungai Rokan.

Di daerah tidak bertuan inilah mereka mendarat dan membangun tempat pemukiman baru yang kemudian dikenal dengan nama Bagansiapiapi. Adapun kata bagan sendiri mengandung makna sebagai tempat, alat penangkap ikan.
Asal Nama Bagansiapipi ada juga cerita yang mnyebutkan adalah kata Bagan yang berasal dari nama alat atau tempat menangkap ikan (yakni bagan, atau jermal), sementara api berasal dari nama pohon api-api yang banyak tumbuh di daerah pantai Sungai Rokan.**(Adv/Hms)


















































