PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Hingga saat ini, Kader Partai berlambang Banteng moncong putih, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) tetap solid bahkan semakin mentereng. Kader PDI-P tetap berpedoman kepada mekanisme sesuai ketentuan partai. Demikian ditegaskan Pramono, Wakil Ketua Baguna PDI-P Riau, yang juga mantan Sekretaris DPC PDI-P Kabupaten Kampar di Kantor DPD PDI-P Provinsi Riau Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, Rabu (11/10).
Ditegaskan Pramono, belakangan ini beredar issu atau stateman bahkan opini yang menyebutkan, kandang banteng bergoyang dan ada praktek jual Sapi. “Itu sama sekali tidak benar, Kader PDI-P tetap solid dan taat kepada AD/ART partai,” tegasnya.
Dikatakan Pramono, sebagai bentuk solidnya PDIP dapat dibuktikan, dimana setiap ada moment politik, seperti Pilkada serentaktahun 2016 lalu, PDI-P selalu mengusung Kadernya. Antara lain, Pilbub Rohil, PDIP mengusung H.Suyatno-Drs. Jamiludin. Jamiludin merupakan ketua PAC PDI-P Kabupaten Rokan Hilir. Selanjutnya Pilbub Rohul, PDIP mengusung kader Senior PDIP (sekretaris DPD PDIP Riau), yakni, H.Syarifudin Poti. Begitu juga Pelelawan PDIP mengusung H Zukri Misran wakil ketua DPD PDIP Riau. Di Inhu PDIP mengusung H KhairizalKetua TMP Riau, Kwantan Singingi H Halim wakil DPC PDIP Kuansing yang maju sebagai wakil Bupati. Kabupaten Bengkalis, yaitu H.Muhammad, ST, MT yang tak lain sebagai ketua Baguna PDIP provinsi Riau. Sementara untuk Pilwako kota Pekanbaru, dimana PDIP merupakan untuk pertama kalinya mengusung kader partai, yakni, Dastrayani Bibra (pasangan nomor 5). Dimana dalam hasil Pilkada tersebut, Calon PDI-P hanya kalah tipis, atau hampir menang. Kodisi tersebut tentunya membawa nama baik PDIP dimata konstituen dan kader partai, urai Pramono.
Dikatakan Pramono lagi, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan kader adalah “Anggota partai yang telah lulus pendidikan kader partai dan telah teruji dedikasi, loyalitas, pengabdian terhadap partai dan masyarakat. Sebagaimana yang tertuang pada AD/ART pasal 15, hasil kongres PDI-P tahun 2015 Jadi yang bukanlah dilihat dari lamanya seseorang menjadi kader partai,” paparnya.
Dicontohkannya, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) yang diusung PDI-P, dimana Jokowi hanya menjabat sebagai wakil ketua DPC PDIP Purwokerto tetapi dinilai dari dedikasi loyalitas dalam pengabdiannyaPDIP tetap mengusungnya sebagai calon Presiden saat itu. Jadi bukan diukur berapa lama jadi kader, atau memiliki KTA sebagai kader, kata Pramono.
Dia memahami, pesta demokrasi sudah dekat, baik Pemilihan legislatif dan Pilgub Riau. Yang tentunya banyak kepentingan disana, siapa saja yang ingin maju silakan, mari kita berembuk dengan baik sesuai aturan partai. Jadi janganlah Pileg, Pilgub dan Pilpres digoreng-goreng demi kepentingan pribadi atau kelompok. Mari kita konsolidasi sesuai aturan partai, terangnya.
Pramono berharap, selaku kader PDI-P dan sebagai Wakil ketua Baguna PDI-P provinsi Riau, apalagi jelang menghadapi Pemilihan Gubernur Riau, Pileg dan Pilpres, agar seluruh kader dan pengurus PDI-P, jangan membuat stateman yang tidak populer demi kepentingan pribadi. “Mari kita berpedoman kepada aturan partai yang berlaku. Dan berikanlah informasi yang jelas dan benar kepada masyarakat,” pungkasnya.**(Jsn)





















































