Coba Giring Opini, Diduga Pengacara PP Beri Keterangan Bohong ke Media

0
40

PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Dihari yang sama setelah Merry Pamadya Utaya, Kamis (28/10/21) melakukan konfrensi pers terkait lambannya penanganan laporan dugaan tindak pidana pemalsuan yang sedang ditangani Kejaksaan Negeri Pekanbaru, ternyata pihak terlapor pada malam harinya juga melakukan hal yang sama di salah satu cafe dibilangan jalan HR Soebrantas, Panam, Pekanbaru, Riau.

Kepada sejumlah media, Kuasa Hukum PP berinisial TS mengatakan sangat mengapresiasi kinerja Kajari Pekanbaru Teguh Wibowo, SH., MH dan Kasi Pidum yang baru Zulham Pardamean Pane karena telah mengambil langkah yang tepat dengan menghentikan proses laporan (Merry).

“Langkah Kejari Pekanbaru sudah tepat karena laporan MPU terkait pemalsuan surat (Peradata) telah kalah ketika digugat. Sehingga, Kejari Pekanbaru menghentikan proses laporannya,” ujar TS seperti dilansir kupaskasuscom, ridarnewscom, mediumposcom, wartaokenet, riau24.

Penggiringan opini yang telah menjadi konsumsi publik ini diduga sengaja dilakukan untuk menanamkan persepsi hukum bahwa laporan MPU tidak memiliki bukti yang kuat, sehingga Kejaksaan Negeri Pekanbaru tidak akan melanjutkan kasus ini. Tetapi anehnya, MPU sebagai pelapor ternyata tidak pernah menerima surat pemberitahuan telah dihentikannya proses penanganan kasus pidana ini baik dari Polresta Pekanbaru maupun Kejaksaan Negeri Pekanbaru.

Hal tersebut ditegaskan Merry kepada media ini, Senin (1/11/21). “Belum ada pemberitahuan bang, makanya saya sempat heran dengan pemberitaan tersebut. Dapat  info dari mana mereka ini,” ujar Merry singkat.

Sementara itu, Kasipidum Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Zulham Pardamean Pane, Senin (1/11/21) di temui di ruangannya terang-terangan membantah pernyataan TS (Advocat) yang sudah dilansir beberapa media tersebut. Sesuai KUHAP pasal 139, kami (Kejari-red) sedang mendalami kasus ini.

“Kasus ini sangat spesial bagi kami, ini pasal 263 maka kami tidak mau terburu-buru dan kami tidak mau kalah,” ujarnya.

TS yang berhasil dihubungi lewat sambungan seluler ketika dipertanyakan kebenarannya, langsung berkelit membantah pernyataan yang telah dipublikasi beberapa media saat konfrensi pers tersebut. “Saya tidak ada mengatakan itu, itu pandai-pandai media saja dan saya tidak perlu mengklarifikasi hal tersebut,” ujar TS.

Di lain pihak, Adrial Adi Putra yang nota bene adalah suami sah dari Merry Pamadya Utaya sangat menyesalkan pemberitaan yang mengkonotasikan upayanya mendampingi istri adalah sebagai upaya intervensi terhadap Kejaksaan Negeri Pekanbaru. Dimana dalam pemberitaan tersebut dirinya dicap sebagai oknum yang sengaja membekingi Merry.

“Oknum TNI AU mengaku suaminya datang ke Kejari Pekanbaru dan mencoba mengintervensi kasus klien kami. Dan menurut keyakinan kami, oknum TNI AU yang datang ke Kejari Pekanbaru pasti tidak ada izin dari atasannya,” kata TS sebagaimana dilansir kupaskasuscom.

Kepada media ini, Adrial membantah tuduhan yang diumbar TS tersebut. “Saya ini kan suami sah Merry, dan tujuan saya ke sana (Kejari) menayakan perkara istri saya ke pada Kasipidum. Wajarlah suami mendampingi istri menghadapi kondisi seperti ini,” ujar Adrial.

Lanjut Adrial, dirinya juga tidak asal mendatangi Kejari. Dirinya mengaku bisa mendampingi istrinya (Merry) setelah mendapatkan izin dari pimpinannya baik pimpinan di kesatuan maupun diatasnya.
“Tentu saya sudah mendapat izin dari komandan, bahkan saya juga sudah menandatangani bantuan hukum dari pihak Lanud untuk menghadapi permasalahan ini. Saya jelaskan, saya disini mendampingi istri karena khawatir dengan kondisi istri saya,” pungkas Adrial.

Sebelumnya diberitakan,  Merry Pamadya Utaya, SH warga Komplek Rajawali 1 LANUD TNI-AU Roesmin Nurjadin Kota Pekanbaru, mempertanyakan kinerja pihak Kejari Pekanbaru dalam menangani kasus dugaan pemalsuan tandatangan dan sidik jari yang dilaporkannya.  Hal tersebut  disampaikan Merry kepada awak media di Nom Cafe, Kamis (28/10/2021)**Jsr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here