Jejak Sejarah Simbol Negara Kader Terbaik PDIP Diabaikan Petinggi Bengkalis

0
565
Presiden Jokowi  tgl 28 september 2021 usai melakukan penanaman mangrove dipantai wisata raja kecik memberikan penyampaian nya terkait mendukung ekowisata daerah ( pantai wisata raja kecik)

BENGKALIS, SUARAPERSADA.com-Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai sejarah” itu adalah cuplikan dari rangkaian kesamaan  kata mutiara BUNG KARNO Proklamator Pendiri Negara Kesatuan Indonesia dalam mengingati, generasi penerus bangsa ini.

Jika kita maknai secara umum  dari kata-kata  ayahanda Pendiri Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan ( Ibu Megawati Sukarno Putri) dapat diartikan “muncul nya sejarah karena  ada  pelaku Sejarah. Ketika sejarah dilupakan, secara otomatis kita akan melupakan Pelaku Sejarah”.

Fakta melupakan pristiwa bersejarah itu sepertinya terjadi di pulau Bengkalis,  kabupaten berjuluk kota terubuk. Dimana sejak 76 tahun Negara ini mardeka baru pertama kali dikunjungi oleh Simbol Negara (Republik Indonesia)   yang bertepatan dijabat oleh kader terbaik  PDI-P, namun sangat disayangkan sekali, prestiwa yang ditinggalkan oleh kepala Negara itu seakan tidak dihargai bahkan telah dilupakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis.

Momen bersejarah yang sudah sejak tujuh puluh enam tahun dinanti-nanti oleh masyarakat Pulau bengkalis, yang merupakan pulau terluar Indonesia berbatasan langsung dengan Negara Malaysia itu, terjadi tepat nya pada tanggal 28 September 2021 lokasi pantai wisata raja Kecik Desa Muntai Barat Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau.

Penantian kehadiran Kepala Negara kala itu, dari sejak pagi lagi telah ditinggu-tunggu oleh ribuan masyarakat,  dalam rangka kunjungan kerja nya melakukan penanaman mangrove, guna untuk memutivasi masyarakat di wilayah pesisir perbatasan  negara agar melestarikan lingkungan, dengan menanam pohon mangrove  kawasan pantai, supaya dapat menjadikanya sebagai benteng alam ( penyangga alami)  untuk membantu mengatasi persoalan abrasi yang kian hari kian mengganas menggerus tembing pantai wilayah kedaulatan  indone sekitar pulau bengkalis akibat ombak selat malaka.

Kunjungan Presiden Republik Indonesia ke 7  Kader Terbaik  PDI-P itu, selain melakukan penanam mangrove dipantai Wisata Raja Kecik, juga menginjak kakinya tanpa alas kaki menelusuri Jambatan Kayu terpanjang dipulau bengkalis  mecapai 800 meter.

Jambatan yang diberi nama Datuk Bandar Jamal pelaku sejarah besar di pulau bengkalis yang mana menurut catatan sejarah, beliau lahir di Desa Muntai anak dari Datuk Bandar Cik mas hasil perkahwinan dengan panglima Tuagik, atau  ayah dari Datuk laksemana Raja Dilaut Pertama ( Encik Ibrahim),
Pembangunan nya boleh dikatakan delapan puluh persen adalah merupakan hasil swadaya dari  kalangan Pemuda -pemuda setempat,  mulai dari anak SD,SMP, SMA  maupun pemuda dari  anak-anak Nelayan, Petani Buruh yang tidak punya kesempatan untuk mengecap pendidikan, oleh karena  keterbatasan ekonomi orang tua atau dengan kata lain ANAK-ANAK WONG CILIK binaan Lembaga Swadya Masyarakat-Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan dari sejak awal.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi juga sempat mengingatkan bahwa penanam mangrove yang terjadi kala itu, semoga dapat mendukung akan keberadaan  ekowisata daerah ( pantai wisata raja kecik), sehingga dampak nya dapat mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar, ungkap kepala Negara saat  memberikan penyampaian di hadapan ribuan masyarakat usai melakukan penanaman mangrove.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat menginjak kaki nya tanpa alas kaki menelusuri Jambatan Datuk Bandar Jamal  yang di bangun 80%  secarawa swadaya oleh anak-anak SD,SMP, SMA maupun anak-anak Nelayan Petani dan Buruh

Sejak berdiri pantai wisata raja kecik sampai hadir kepala Negara, Pantai  yang dikelola oleh pemuda setempat bekerja sama dengan Pemerintah Desa Muntai Barat sesuai Peraturan Desa Muntai Barat Nomor : 2 tahun 2022 tentang Pengembangan Pantai Wisata Raja Kecik Sebagai Tempat Wisata,  hingga april 2023 2022 sepertinya tidak pernah sepi pengunjung hingga ribuan orang masyarakat lokal maupun manca negera.

Penelusuran media ini ke pantai wisata raja kecik sekaligus mewawancarai beberapa pemuda yang mengelola pantai tersebut, mengatakan hasil dari pengelolaan pantai wisata raja kecik, mereka bagi beberapa bagian yaitu diantara nya : (1). 20 % untuk anak yatim piatu, fakir miskin dan orang tidak mampu, (2) . 30% untuk oprasional pengelola pantai, (3). 7% untuk retribusi desa, (4). 13% untuk petugas kebersihan pantai, (5). 10% uang kas tahunan pemuda setempat, (6). 20% anggaran biaya perawatan fasilitas pantai secara keseluruhan.

Namun keluh mereka, anggaran yang diperoleh dari hasil pengelolaan pantai,  belum mampu untuk membiayai perawatan jambatan kayu datuk bandar jamal sepanjang delapan ratus meter  termasuk fasilitas lainya secara keseluruhan, sehingga kondisi jambatan  yang tercatat pernah diinjak oleh kepala Negara tanpa alas kaki itu,  saat ini tak mampu dirawat bahkan kayu jembatan nya banyak  sudah lapuk ( rusak).

Begitu juga  mangrove yang ditanami  oleh Presiden Jokowi   juga terancam punah, akibat di terjangangan ombak selat malaka oleh karena tidak dibuat  pengaman tanaman secara permanen atau tidak dipikirkan bagaimana untuk menyelamatkan tanaman  merupakan catatan sejarah penting dipulau bengkalis  oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis yang di pimpin Kasmarni.

Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis terkesan setelah tanggal 28  september 2021, sepertinya  tidak mau ambil pusing  terhadap petunjuk atau petanda yang  ditinggal oleh Kepala Negara dipantai wisata raja kecik . kesal beberapa pemuda  pengelolaa pantai yang enggan nama nye dipublikasi.Lebih jauh sindir mereka yang diketegorikan masih muda belia itu, kepada Bupati Bengkalis selaku kepala Daerah

” Jangan kan untuk mengembangkan pantai wisata raja kecik agar lebih baik dan mampu berkembang sehingga dapat membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat umum  di wilayah perbatasan Negara terutama bagi UMKM , malah berko’ordinasi dengan kami untuk bagaimana merawat apa yang telah ditinggalkan bapak Presiden pun tidak pernah ” ujar nya  kesal.

Semenatara buapati Bengkalis sampai berita ini dipublikasi belum dapat diminta tanggapanya, karena terkesan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar pusat ibu kota kabupaten bengkalis, bahkan menjadi buah bibir masyarakat bengkalis bahwa bupati bengkalis terindikasi lebih sibuk hanya  mengurus untuk bagaimana pemperolehi penghargaan-penghargaan dari pihak tertentu demi untuk pencitraan nya dalam rangka menyonsong pilkada priode berikutnya, sementara kondisi ekonomi masyarakat terutama masyarakat yang berdomisili dipulau terluar indonesia ( pulau bengkalis dan pulau rupat) batas Negara murat maret atau dalam istilah lain nya, kais pagi makan pagi, kais petang makan petang

Begitu juga Kepala Dinas Prwisata Kabupaeten Bengkalis ( Edi Sakura)  yang merupakan mantan terpidana kasus penganiayaan anak di bawah umur sesuai putusan Pengadilan Negeri Bengkalis dalam  perkara No :  154/Pid.Sus/2013/PN.BKS  pun belum dapat untuk diminta tanggapan  nya terkait upaya nya untuk bagaimana menjaga dan merawat jejak sejarah apa yang ditinggal kan oleh Kepala Negara di pantai wisata raja kecik.

Selaku pimpinan OPD yang membidangi Parwisata, sepatunya Edi Sakura harus nya peka dan jeli bagaimana untuk memperhati dan  mengembangkan potensi-potensi parwisata di wilayah Kabupaten Bengkalis yang menjadi perhatian maupun tumpuan  ribuan masyarakat, apatah lagi yang menjadi perhatian khusus oleh  kepala Negara, seperti Pantai Wisata Raja Kecik.

Namun sepertinya bagi  Kadis Parwisata Kabupaten Bengkalis  mantan kepala SMAN 4 Bengkalis tahun 2013 itu , seakan mungkin menilai kehadiran Kepala Negara ke suatu tempat  seperti pantai wisata raja kecik tidak bermakna apa-apa, sehingga tidak perlu diperhatikan dan diko’ordinasikan bersama masyarakat pengelola pantai maupun Pemerintah Desa setempat untuk bagaimana bisa di kembangkan menjadi lokasi paforit wisata unggulan yang pernah di kunjungi oleh Kepala Negara.

Laporan : Solihin
Editor     : Redaksi0

Tinggalkan Balasan