PEKANBARU, SUARAPERSADA. com– Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau ( BEM-KM) UMRI serta Mahasiswa dari Universitas Andalas ( Unand ) Padang yang berdomisili di Pekanbaru, Jumat (17/7) sore, menggelar aksi demonstrasi di Kantor DPRD Riau. Dalam aksinya, mereka mengecam dan menolak pengesahan Rancangan Undang-undang Cipta Kerja (RUU Omnibus Law) yang diusulkan pemerintah.
Dalam orasinya, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Edo Cipta menyatakan, sekalipun dua rekan kami telah diteror dan terluka sebelum aksi ini, kami tetap menolak kebijakan pemerintah untuk memberlakukan dan mengesahkan RUU Omnibus law yang dinilai tidak pro terhadap Rakyat. Untuk itu kami sepakat untuk mengagalkan omnibus law karna tidak pro terhadap rakyat kecil, teriak Edo Cipta.
Selanjutnya, Koordinator Umum (Korum) alsi, Akhmad zikri, membacakan aspirasi dan penyataan sikap mereka terhadap RIU Ombusni Law. “Kami BEM-KM UMRI dan Rekan-rekan sepakat menolak Pengesahan RUU Omnibus law”, dengan tuntutan sebagai berikut
1. Menuntut DPRI Untuk tidak mengesahkan RUU Omnibus law dengan pertimbangan Omnibuslaw akan memudahkan masuknya tenaga kerja asing ( TKA ) ke Indonesia. Memberikan celah kepada pengusaha untuk memberhentikan para pekerja yang tidak sesuai dengan keinginannya, Pemutusan Hubungan Kontrak ( PHK ) secara besar besaran. Menetapkan gaji bedasarkan Jam kerja serta jaminan hak pekerja yang di hapuskan, terutama pada pekerja wanita yang sedang Hamil dan Haid. Dihapuskannya sanksi pidana bagi pengusaha yang tidak memberikan hak-hak buruh. Adanya krisis lingkungan yang terjadi karna tindakan yang tidak lagi memperhatikan lingkungan. sehingga memudahkan terjadinya bencana alam dan kerusakan lingkungan dan sistem perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib Analisis dampak lingkungan ( AMDAL ) akan di robah.
2. Menuntut agar DPRD Provinsi Riau sebagai representatif warga provinsi Riau untuk menolak RUU Ombusni law.
3. Menjamin kehadiran Negara dalam terciptanya ruang kerja yang aman benas diskriminatif dan dapat dapat memenuhi hak maupun perlindungan terhadap buruh.
Kehadiran mahasiswa tersebut disambut hangat oleh beberapa anggota DPRD Provinsi Riau dan menerima berkas tuntutan mereka. Dan DPRD Provinsi Riau berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka ke Pusat.
Untuk diketahui, satu hari sebelum aksi ini digelar, usai mahasiswa menggelar konsolidasi dan teknical lapangan terkait rencana aksi digelar, Dua orang mahasiswa diserang oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang menyebabkan dua mahasiswa tersebut terluka.
Sebagamana disampaikan Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Edo Cipta kepada media,
“Iya tadi malam anggota saya mendapat penyerangan, alhamdulilah mereka selamat, hanya mengalami luka-luka” ujarnya.

Dikisahkannya, selesai mengatur teknik lapangan (Teklap) aksi, mahasiswa pulang bersama meninggalkan kampus. Di perjalanan pulang, tak jauh dari kampus lebih tepatnya diseberang kampus Umri dekat lapangan Sampoerna. 2 orang dari mahasiswa Umri dicegat orang tak di kenal dengan mengenderai dua motor. Yakni, Max dan beat dan menodongkan senjata tajam, terangnya.
“Orang tersebut penyerangan yang menyebabkan, Fakhri (20) dan Syukri (21) mengalami luka sayat di bagian paha dan lengan tangan. Beruntung keduanya dapat menyelamatkan diri sehingga terhindar dari hal-hal yang lebih membahayakan lagi. luka-luka, akibat goresan pisau yang digunakan oleh OTK tersebut, ujarnya.
Atas peristiwa ini, mahasiswa Umri mengecam tindakan teror tersebut oleh sekelompok orang tak dikenal itu. Kita berharap nantinya tidak ada lagi hal seperti itu terjadi lagi, pungjasnya.(Fran Sibarani)




















































