PEKANBARU, SUARAPERSADA.com-Tekanan terhadap jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Riau dalam pemberantasan narkotika dan obat obat terlarang sejak sepekan terakhir kian gencar.
Mulai dari anggota DPR RI hingga aksi demonstrasi mahasiswa dan pelbagai kelompok masyarakat menuntut polisi menekan angka kriminalitas narkotika, minuman keras sampai prostitusi terselubung.
Menjawab ‘tekanan’ tadi, Sabtu dinihari (21/3) tadi, jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau menggelar operasi. Sayangnya, razia di 15 tempat hiburan malam seperti karaoke, pub, diskotik, bilyard dan hiburan lainnya pulang tanpa hasil. Oalaah…
Kuat dugaan, rencana razia itu sudah duluan sampai daripada tim gabungan yang dibagi 3 kelompok itu. Alhasil, pihak Dirtes Narkoba Polda Riau dan tim ini pun pulang dengan tangan hampa.
‘’ Barangkali faktor hujan saja, hasil razia kita kali ini nihil. Kalau hujan kan tamunya sepi,’’ kata Kombes Pol Hermansyah, Direktur Ditres Narkoba Polda Riau.
Kendati begitu, kata dia, Polda Riau tetap melakukan razia terhadap peredaran narkoba. Razia itu bakal rutin dilakukan namun, tentu, dengan menggunakan metoda acak.
Terlepas soal itu, sejumlah tempat hiburan malam yang dijambangi tim gabungan Ditres Narkoba itu antara lain XP Executive Club, MP Club, SP Club, RP International Club yang disebut-sebut milik pengusaha berinisial DH. Lalu tempat hiburan Grand Dragon yang diduga milik pengusaha berinisial Lk serta beberapa diskotik dan pub milik pengusaha yang lain.
Namun ketika tim menggerebek tempat hiburan XP Executive Club di Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, ditemukan sejumlah wanita warga negara asing. Saat ditanya, perempuan asal Jepang itu mengaku hanya sebagai turis.
Tetapi informasi yang diperoleh di lapangan, sejumlah tempat hiburan memang menyiapkan wanita wanita penghibur warga negara asing dengan tarif yang mahal. Sayangnya, kerena target operasi tersebut adalah narkotika, para wanita muda ini pun ‘’selamat’’ dari razia identitas kependudukan!***


















































