Masyarakat Curigai Ikan Berformalin

0
1633

PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru saat ini sedang melakukan pendalaman laporan dari masyarakat tentang dugaan adanya ikan mengandung formalin yang beredar di pasar-pasar Kota Pekanbaru.

“Kami mendapat laporan dari masyarakat yang curiga adanya kandungan pengawet pada ikan,” sebut Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Pekanbaru, Mas Irba Sulaiman di Pekanbaru, Rabu (4/10).

Mandapati laporan tersebut, Disperindag Pekanbaru membentuk tim terpadu dan melakukan penelusuran bersama Dinas Pertanian dan Peternakan serta Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Pekanbaru.

Lokasi yang dilakukan inspeksi mendadak diantaranya adalah distributor ikan segar yang berada di Jalan Teratai, Pekanbaru.

Hingga hari ini hasil pemeriksaan masih nihil, ikan yang dipasok oleh distributor dan berasal dari Tanjung Balai Asahan, Medan tersebut bebas dari zat berbahaya.

“Informasi yang kita gali, ikan berasal dari Tanjung Balai Asahan. Kita ambil sampel dan uji BBPOM, hasilnya kami pastikan tidak ada zat berbahaya,” ujarnya.

Ia juga memastikan penyaluran ikan beku yang setiap hari mencapai 3 ton ke lokasi distributor tersebut aman.

Dari lokasi pertama, petugas kemudian melakukan pemeriksaan ke sejumlah pasar-pasar tradisional di Pekanbaru. Kali ini, sasaran petugas bukan merupakan ikan beku, melainkan ikan segar dengan jenis yang sama.

Distributor mengakui terdapat 18 penyalur lain yang menyalurkan ikan tersebut ke sejumlah pasar.

“Dari beberapa pasar yang kita periksa hasilnya juga nihil. Tidak ada kandungan zat berbahaya seperti laporan masyarakat,” ujarnya.

Meski tidak menemukan adanya zat berbahaya, dia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pantauan di lapangan. Sementara itu, Irba mengkhawatirkan bahwa laporan masyarakat itu berasal dari ikan yang dibeli dari pasar-pasar kaget.

Pasar kaget atau pasar dadakan, kata Irba, tergolong sebagai pasar yang tidak berizin alias ilegal.

“Karena biasanya ketika ikan tidak habis, kemudian dijual kembali ke pasar kaget atau pasar jongkok. Saat ini kita masih fokus dulu ke pasar yang berizin, termasuk mendalami 18 penyalur yang disebutkan distributor tadi,” katanya.

Sementara itu seorang ibu yang terlihat sedang berbelanja ketika disambangi media ini disekitar pasar tradisional mengatakan sangat was-was dengan adanya informasi yang berkembang tersebut.

“Kita meminta agar pemerintah selalu melakukan pengawasan terhadap produk-produk dijual dipasar ini. Karena kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana itu dilakukan oleh penjual yang nakal,” ujar ibu Siti.

“Kalau ada pengawasan, kita ga perlu khawatir lagi,” tandasnya.**(Bas)

Tinggalkan Balasan