
PEKANBARU, SUARAPERSADA., com – Hingga awal Maret tahun 2020, Polda Riau berhasil menangani 168 hektare lebih kebakaran hutan dan lahan. Selanjutnya menangkap, menetapkan dan menahan 37 orang yang diduga sebagai pemilik lahan yang dengan sengaja membakarnya untuk dijadikan kebun.
Kapolda Riau, Irjen Agung Setya Imam Effendi, didampingi Kabid Humas Polda Riau Komisaris Besar Sunarto, Senin (2/3) sebagaimana di beritakan, SYBER88.RIAU menjelaskan, Polres Bengkalis dan Rokan Hilir paling banyak menangkap pelaku kebakaran lahan, masing-masing 9 tersangka. Dan petugas memasang garis polis pada lahan seluas 22,4 hektare. Bengkalis, petugas menjadikan 116 hektare lebih lahan sebagai barang bukti. Ditambah lagi dengan barang bukti lainnya, mulai dari mancis, kayu bekas terbakar, dan jeriken disita, terang Agung.
Dari 37 tersangka trrsebut tidak ada satu pun berasal dari perusahaan. Mereka adalah petani ataupun pemilik lahan serta penerima upah untuk membakar lahan, ujar Kapolda lagi.
Selain itu kata Agung, didua kabupaten tersebut, 5 tersangka ada di Indragiri Hilir, 3 di Indragiri Hulu, 3 di Siak, 2 di Kota Dumai, 4 di Kepulauan Meranti, dan 2 lagi di Kota Pekanbaru. Sementara Kampar, Kuantan Singingi, dan Pelalawan belum ada pelaku tertangkap meski di sana sudah terjadi kebakaran lahan.
Agung menyatakan, pihaknya tidak hanya menegakkan hukum tapi juga memadamkan titik api di sejumlah lokasi. Polisi bahu membahu dengan instansi terkait menanggung kebakaran lahan, termasuk melibatkan relawan karhutla.
Di lokasi kebakaran, tidak ada satu pun polisi boleh meninggalkan lokasi, kecuali untuk beristirahat. Pergerakan polisi ini terpantau Dashboard Lancang Kuning, termasuk jumlah titik api dalam sehari.
“Satu jam saja meninggalkan lokasi kebakaran, efeknya bisa satu hari untuk memadamkan. Begitulah sulitnya memadamkan api,” sebut Agung.
Agung menyebut keberadaan dashboard tadi sangat bermanfaat sebagai antisipasi. Selama ini, pemadaman kebakaran lahan di Riau masih gelap dan tidak tahu kapan serta di mana titik api muncul.
“Sekarang aktivitas pemadaman terpantau, di mana dan siapa saja di lokasi. Ini menjadi data-data primer,” ucap Agung.
Diakui Agung, Riau saat ini semakin panas. Musim kemarau sudah mulai terjadi dan ke depannya hari-hari di Bumi Lancang Kuning akan diwarnai banyaknya aktivitas pemadaman titik api. “Oleh karena itu kami mengajak setiap stakeholder mendorong turun bersama-sama dan peduli dengan pemadaman,” harap Agung.
Saat ini, Polda Riau sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi, baik itu kajian antisipasi bencana kebakaran lahan ataupun menyiapkan ratusan mahasiswa sebagai relawan karhutla.
Sejauh ini sudah ada ratusan relawan mendaftar. Relawan ini sudah ada yang dilatih memadamkan api, menggunakan alat pemadaman dan langkah-langkah antisipasi selama berada di lokasi kebakaran.
Di sisi lain, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Senin siang mendeteksi 18 titik panas indikasi karhutla dengan level kepercayaan di atas 50 persen. Hujan diprakirakan mulai jarang terjadi pada siang hingga petang hari.
“Cuacanya cerah hingga berawan. Begitu juga pada malam hingga dini hari, potensi hujan masih ada tapi bersifat ringan dan lokal,” kata petugas BMKG, Sanya Gautami.
Sanya menjelaskan, 18 titik panas di Riau terdeteksi di Bengkalis 6, Kota Dumai 2, Kuantan Singingi 1, Pelalawan 4, Rokan Hilir 1 dan Siak 2.
Dari 18 titik panas tadi, tambah Sanya, ada 12 titik yang dipercaya sebagai api atau telah terjadi kebakaran dengan level kepercayaan di atas 70 persen.
“Sebanyak 4 titik api terdeteksi di Pelalawan, Siak dan Kepulauan Meranti serta Kota Dumai, masing-masing 1 titik api. Terakhir di Bengkalis ada 5 titik,” kata Sanya. (jsR/cyber88.riau)




















































