Greenpeace : “Pak Presiden Tolong Hentikan PLTU Batang”

0
586

PEKANBARU, SUARAPERSADA.com-Sekitar 30 aktivis organisasi lingkungan hidup global, Greenpeace melakukan kampanye menolak rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 35.000 MegaWatt (MW) di Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Aksi tersebut mereka gelar di seputaran bundaran Tugu Zapin, depan kantor Gubernur Riau (Gubri), Sabtu (30/5). Beberapa orang dari para aktivis membentangkan spanduk dan menggelar flash mob (pertunjukan seni kreatif di tengah keramaian, Red). yang intinya meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan investor Jepang menghentikan pembangunan proyek pembangkit listrik yang bahan bakarnya berasal dari batubara.

“Energi batubara adalah salah satu sumber energi fosil yang paling kotor, salah satu penyebab perubahan iklim dengan dampak yang sangat merugikan. Oleh sebab itu, Bapak Presiden tolong proyek PLTU Batang dihentikan,” kata Zamzami, Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia kepada wartawan di sela sela aksi tersebut.

Indonesia, sebutnya, memiliki sumber energi terbarukan seperti geothermal. panas matahari dan angin. Padahal, sebenarnya Indonesia memiliki cadangan sumber energi terbarukan, yakni geoghermal. Bahkan energi ini mencapai 40 persen dari total cadangan dunia.

Zamzani menambahkan aksi penolakan terhadap PLTU Batang berlangsung juga di kota kota lain di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Kota Padang. Sedangkan kampanye anti pemakaian energi kotor dan perubahan iklim juga berlangsung di 30 negara.

Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika menambahkan, selama 4 tahun, warga Batang, Provinsi Jateng telah melakukan berbagai cara menolak rencana pembangunan PLTU di daerah mereka. Sayangnya pemerintahan Presiden Jokowi seolah oleh menutup teliga terhadap tuntutan masyarakat Batang.

Selain dapat memicu pemanasan global, proyek PLTU Batang dapat mengancam mata pencaharian setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan. Betapa tidak, penggunaan sumber energi batubara mengancam kelestarian lingkungan hidup di daerah mereka.***

Tinggalkan Balasan