Apkasindo : Situasi Turbulensi Sawit Dimanfaatkan Spekulan TBS Buat Petani merugi

0
94

JAKARTA, SUARAPERSADA. com- Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Medali Emas Manurung mengatakan, Nasib petani sawit tak henti-hentinya jadi “bantalan” permasalahan industri sawit di Indonesia.

“Setelah pupuk dan herbisida naik hampir 300%, Pekebun dilarang menggunakan pupuk subsidi, truk sawit dilarang menggunakan solar subsidi, kini harga TBS petani hanya dihargai 20-40 persen dari harga normal, jauh dibawah harga HPP (Harga Pokok Produksi),” kata Gulat, Sabtu (30/4/22) sore sebagaimana dilansir kabarriau/babe.

“Hal yang terakhir ini terkait kebijakan Presiden Joko Widodo yang menghentikan ekspor minyak goreng, Crude Palm Oil (CPO) serta beberapa produk turunan CPO lainnya,” ulas Gulat.

Katanya, salah satu isi dari SE tersebut adalah supaya Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak menetapkan harga beli TBS petani secara sepihak. Sebagaimana yang terjadi saat ini penurunan harga TBS antara Rp800 hingga Rp2.400 per kilogram. “Ini jelas melanggar ketentuan Tim Penetapan Harga Pembelian TBS seperti diatur dalam Permentan 01 Tahun 2018, tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit Produksi Perkebunan,” bebernya.

Katanya, “kami mengingatkan kepada PKS untuk tidak melakukan pembelian TBS Kelapa Sawit di luar ketetapan Tim Penetapan Harga TBS Provinsi”.

Kebijakan Presiden Jokowi tersebut tukas Gulat, sudah tepat, pasokan kebutuhan dalam negeri yang utama dan pertama, hanya para spekulan TBS yang memanfaatkan situasi turbulensi ini.
“Itu sudah Pidana, Tim Satgas Pangan Mabes Polri harus segera turun, dan memeriksa semua PKS yang sudah melawan Kebijkan Presiden Jokowi”.

Karena itu kata Gulat, ada tiga hal yang harus dilakukan PKS
1.Tidak ada alasan bagi PKS untuk tidak menyerap atau mengurangi pembelian TBS, karena tangki CPO tidak akan penuh, melainkan langsung masuk ke refinery domestik (kapasitasnya 54 juta ton) yang kemudian diekspor (kecuali terkait migor).
2.Tidak ada alasan bagi PKS untuk turunkan harga TBS, karena formula harga TBS yang ditetapkan Permentan didasarkan pada harga CPO dunia. Harga CPO dunia malah potensial naik akibat larangan ekspor langsung CPO Indonesia.
3. Data statistik 2021 menjelaskan bahwa eksport CPO Indonesia hanya 7% dari total jenis eksport berbahan baku sawit, 93% eksport sudah melalui proses refinery.**

Tinggalkan Balasan