Gubernur Riau : “Tradisi Balimau Kasai Potang Mogang, Simbol Penyucian dan Pembersihan Diri”

0
786
Gubri menyiramkan air Limau saat hadiri Potang Balimau Kab Kampar di Tepian Sungai Kampar Pulau Langgini Kec. Bangkinang Kota

SUDAH menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Kampar- Riau ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan setiap tahunnya selalu melakukan tradisi Balimau Kasai Potang Mogang.

Tradisi  ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.

Sedangkan kasai adalah wangi- wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.

Untuk tahun menyambut ramadhan 1440 H tahun ini Gubernur Riau Syamsuar dan istri menghadiri Balimau Kasai yang diadakan di pantai Langgini, Ahad, (05/05/2019).

Hadir pada kesempatan tersebut Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto dan Ketua TP PKK Kabupaten Kampar Muslimawati, Sekda Kampar Drs. Yusri, M.Si dan Isteri, Burhanuddin Husin, Mm mantan Bupati Kampar, Forkopimda, Camat, Tokoh masyarakat dan kepala OPD dilingkungan Pemkab Kampar.

Gubernur Riau dalam arahannya menyampaikan agar tradisi Balimau kasai terus dipelihara oleh masyarakat karena memiliki makna yang positif bagi kita. Kegiatan Balimau Kasai ini punya makna dan arti tersendiri, untuk itu kelestarian budaya ini perlu dijaga.

Lanjut Syamsuar, ada beberapa hikmah yang bisa diperoleh, kita membersihkan diri kita bukan hanya badan tapi rohani kita, begitu juga ajangsilaturrahmi antar masyarakat.

Selain itu, imbuh Syamsuar balimau Kasai dapat dijadikan iven wisata, kampar ini merupakan daerah yang kaya akan Pariwisata, banyak yang dapat dipromosikan dan dijual kepada wisatawan, bulan mei ini juga kita akan gelar iven wisata budaya.

“Marhaban ramadhan, Mari kita sambut bulan Ramadan ini dengan penuh gembira, bulan yang penuh Rahmat, maghfirah dan bulan bebas dari api neraka,” ujar Syamsuar.

Sementara itu Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada gubernur Riau yang telah meluangkan waktu hadir di Kabupaten Kampar dalam rangka Balimau Kasai. Ini merupakan agenda masyarakat, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat dari zaman dulu dan sampai sekarang,” ucap Catur Sugeng Susanto.



Lanjut Bupati Kampar itu, mari kita jaga keamanan, ketertiban, keselamatan, jaga keluarga mari kita semuanya berhati-hati,” ujarnya mengingatkan masyarakat yang hadir.

“Besok kita melaksanakan ibadah puasa, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa yang memenuhi kriteria dan syarat dan di terima Allah SWT,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Gubernur Riau Syamsuar melakukan penyiraman Limau Kasai kepada masyarakat yang diikuti oleh Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto, Sekda Kampar Yusri, Mantan Bupati Kampar Burhanuddin Husin, Kapolres Kampar dan tokoh Masyarakat.

Selanjutnya acara diisi dengan pengumuman pemenang lomba sampan hias dan sekaligus penyerahan hadiah oleh Gubernur dan Bupati Kampar.

Sementara itu, Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution didampingi Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi bersama masyarakat Kota Pekanbaru mengikuti prosesi Petang Balimau di ruang terbuka Rumah Singgah Tuan Kadi, Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, Ahad (5/5/2019) sore.

Edy Natar Nasution mengatakan hal yang sama, “tradisi Potang Balimau sangat baik untuk dilestarikan. Sebab ada banyak makna dalam penyelenggaraan Potang Balimau dalam menyambut bulan suci Ramadan 1440 H,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Ia menilai penyelenggaraan Petang Balimau dari tahun ke tahun sudah cukup baik. Namun harus ditingkatkan keamanannya. Sebab banyak masyarakat yang ikut dan berada di tepi sungai.

“Penyelenggaraan sudah cukup bagus. Apalagi yang datang tidak cuma dari Pekanbaru, maka diharapkan pengelolaan dari tahun ke tahun semakin baik lagi,” katanya.

Di sisi lain, Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi mengaku ada sejumlah perubahan dalam penyelenggaraan petang balimau atau petang megang di Kota Pekanbaru. Awalnya ziarah digelar di pekamaman umum. Saat ini ziarah diigelar di Pemakaman Marhum Pekan.

Ia menilai kegiatan ini punya makna menyucikan diri. Ada hikmah yang bisa diambil dengan memperbanyak berdoa kepada Allah.

“Ramadan harus diawali dengan hari yang bersih, agar bisa menjalani bulan Ramadan dengan baik,” ujarnya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru, Nurfaisal menyebut bahwa kegiatan ini juga diisi dengan momen berbagi dengan menyantuni 20 anak yatim di Kampung Bandar selain memberikan kain sarung dan mukena.**(Galeri/hmsprovRiau)

Tinggalkan Balasan