BANGKINANG, SUARAPERSADA. com– Ocu Arun, orang tua siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kampar mengaku tidak merasa terbebani dengan pembelian buku Lembaran Kerja Siswa ((LKS). Justru lebih memilih membeli buku LKS ketimbang membeli paket internet. Hal tersebut disampaikan Ocu Harun, saat dimintai komentarnya, terkait jual beli buku LKS oleh sekolah, Selasa (10/8/2021).
“Selama ini saya tidak merasa terbebani untuk membeli buku tersebut, bahkan dengan adanya LKS akan meningkatkan kecerdasan otak anak kam. Karena belajar dengan menggunakan LKS, kita bisa memantau anak dirumah,”ujarnya
Menurut Ocu Arun, belajar dengan menggunakan LKS lebih efektif dan murah. Sementara membeli paket internet lebih mahal dan ribet. Selain itu belajar secara daring, dikhawatirkan otak anak akan terganggu akibat radiasi dari Handpone sangat tajam, terangnya.
Ia menampik tudingan miring terkait LKS yang disebut pungli. Kami sebagai orang tua siswa sudah sepakat dan tidak keberatan untuk membeli buku LKS. Jadi aturan mana yang dilanggar dan dimana letak punglinya. “Sebelum buku LKS di bagikan, telah dilaksanakan rapat musyawarah semua wali murid dengan dihadiri Ketua Komite Sekolah, jadi dimana letak punglinya, ulang Ocu Arun lagi.
Menurutnya, oknum yang menyalahkan Disdik terkait buku LKS, sepertinya kurang bijak. Karena tudingan nya bisa mempengaruhi masyarakat dan meresahkan wali murid. Patut diduga orang tersebut tidak pernah Sekolah, sehingga keliru dalam mendidik anak, cetus nya.
Lagi kata Ocu Arun, tidak ada celah untuk menyalahkan Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar. Karena buku LKS diperjual belikan susah mendapat persetujuan wali murid dan tidak ada paksaan. Jadi sah-sah saja dan kami mendukung kebijakan ini. Yakni, belajar dengan menggunakan LKS, pungkas Ocu Arun.
Hal senada disampaikan wali murid yang berdomisili di Kecamatan Bangkinang, Menurutnya, selama masa pandemi Covid-19, kami merasa terbantu dengan ada nya LKS. Karena belajar secara online, selain sering gangguan jaringan, biaya lebih tinggi, Anak-anak susah di pantau, ucapnya.
**(Hamdani)
























































