Mubajir, Kapal Patroli Imigrasi Dumai Dua Tahun tidak Dioperasionalkan

0
409

DUMAI, SUARAPERSADA.com – Hampir dua tahun Kapal Patroli Imigrasi Dumai “menghilang” dari Pelabuhan maupun diperairan wilayah kerja Kantor Imigrasi Dumai. Artinya, sekitar dua tahun pula petugas pengawas perairan di wilayah hukum Imigrasi Dumai tidak melakukan Patroli.

Kapal Patroli Imigrasi Dumai itu menghilang begitu saja dari Pelabuhan atau di perairan Laut Dumai, ternyata setelah diselidiki kapal tersebut mengalami kerusakan yang signifikan alias rusak parah. Kini Kapal Patroli itu sedang dalam proses perbaikan mesin setelah sebelumnya dilakukan perbaikan hingga turun mesin.

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Tata Usaha Kantor Imigrasi Dumai, Soegiyanto ketika ditemui diruang kerjanya kepada suarapersada.com mengakui, bahwa kapal patroli dimaksud benar mengalami kerusakan mesin sudah lebih kurang satu tahun lamanya.

Kerusakan mesin kapal menurut Soegiyanto setelah mendapat informasi dari pegawai Imigrasi disebut berawal karena kapal pernah mengalami kebocoran hingga mesin tempel 200 PK 3 (tiga) unit terendam air laut sehingga ke tiga mesin kapal berkarat dan rusak.

Diakui Soegiyanto, bahwa mesin kapal yang rusak sudah selesai diperbaiki, namun kata Soegiyanto hanya ada kekurangan satu sparepart (alat-red) lagi yakni handel gas yang belum tuntas perbaikannya. Apabila alat itu sudah selesai dipasang, maka kapal dimaksud katanya akan disandarkan di pelabuhan Pangkalan Angkatan Laut Dumai.

Secara terpisah, Kepala kantor Imigrasi Kelas II Dumai, Drs.Budiman Ronnie saat dihubungi suarapersada.com lewat phonselnya membenarkan kalau Kapal Patroli milik Imigrasi Dumai mengalami kerusakan dan sudah diperbaiki setelah dilakukan turun mesin.

Menurut Budiman, proses perbaikan mesin yang rusak sudah selesai dilakukan pihak bengkel. Kapal patrol hingga saat ini katanya masih tambat di pinggir pantai sungai Dumai tempat mesin kapal diperbaiki, namun hanya menunggu dipindahkan dan ke Pangkalan Angkatan Laut Dumai.

Ketika suarapersada.com bertanya soal mesin kapal seyogiyanya belum sepatutnya rusak mengingat Kapal Patroli Imigrasi tersebut masih tergolong baru, dimana Imigrasi Pusat menyerahkan kapal tersebut ke imigrasi Dumai pada tahun 2010 lalu, Budiman hanya menyebut namanya mesin tempel. “Kan pakai mesin tempel”, ujarnya menjawab.

Sementara itu masih menurut Budiman, setelah kapal patroli Imigrasi itu mengalami kerusakan, maka timbul pemikirannya untuk melakukan penghapusan atau dilelang terhadap kapal patroli tersebut mengingat pengawasan yang dilakukan pihaknya lebih banyak di darat. Hal itu katanya akan dibicarakan ke atasannya.

Selain kurangnya pengawasan di perairan, lanjut Budiman menjelaskan, anggaran untuk operasional kapal diakui Budiman cukup terbatas yakni hanya Rp 30 juta saja per tahun. “Padahal pemakaian minyak menurutnya sangat boros hingga tembus 800 liter sekali jalan,” terang Budiman mengakhiri penjelasannya kepada media ini.

Disisi lain, menyikapi kondisi kapal patroli Imigrasi notabene milik Negara yang disebut-sebut terlalu dini rusak itu, sejumlah kalangan masyarakat di Kota Dumai menyayangkan kinerja Instansi vertikal itu (Imigrasi Dumai-red).

Alasan itu mereka sampaikan dan mereka sikapi, tidak lain karena kerusakan mesin Kapal Patroli itu katanya sepatutnya belum terjadi kerusakan mengingat kapal masih tergolong baru. “Ini diduga karena pemakaian kapal saat operasional asal-asalan atau nakhoda baik ABK patroli itu tidak professional dibidang pengoperasian kapal,” ujar sumber media ini.

Selain sorotan terhadap dininya rusak kapal Negara itu oleh beberapa elemen masyarakat di Kota Dumai, mereka juga menduga hal tersebut terjadi tidak lain karena kurangnya perawatan terhadap kapal oleh ABK, sehingga kapal begitu cepat mengalami kerusakan. “Ini tidak terlepas juga karena lemahnya atau tidak adanya pengawasan dari pimpinan Imigrasi Dumai,” tandas sumber itu.**Tambunan

 

 

Tinggalkan Balasan