PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Rasa luka yang mendalam masih dirasakan Nelson Panjaitan (47) dan Rona boru Simbolon (47) warga Jalan Lembah Damai Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau atas meninggalnya buah hati mereka.
Keluarga ini juga mengaku kecewa dan merasa disepelekan oleh pihak Sekolah dan Yayasan SD Narwastu yang beralamat di Jalan Perjuangan Kelurahan Palas Kecamatan Rumbai Pekanbaru Riau.
Pasalnya, sudah delapan bulan anak kesayangannya, Edison Panjaitan (10) eks siswa Kelas III SD Narwastu meninggal dunia, namun pihak sekolah dan Yayasan tidak menjelaskan penyebab atau kronologis yang menimpa Edison Panjaitan Demikian disampaikan Rona boru Simbolon kepada media ini, Sabtu (10/11).
Dengan wajah kusut dan berlinang air mata, warga miskin yang bekerja sebagai pembersih barang bekas (kara-kara) menuturkan, “pada bulan Maret 2018 silam, sudah lupa tanggalnya, Edison pergi sekolah dengan kondisi sehat dan memberitahu akan pergi berenang atas perintah sekolah SD Narwastu. Tetapi sepulangnya kerumah kondisi edison telah terbujur kaku dan sudah jadi mayat,”tutur Rona seraya memeteskan air mata.
Informasi yang kami terima dari orang yang mengantar almarhum, edison meninggal karena kecelakaan di kolam renang Kwantan Regency. Sebagai orang tua kami ingin mengetahui apa penyebab anak kami meninggal, karena sebelumnya dalam kondisi sehat.
“Tetapi hingga saat ini, pihak sekolah dan Yayasan SD Narwastu tidak bisa menjelaskan kronologis meninggalnya Edison. Bahkan hingga sekarang pihak Yayasan tidak pernah menjumpai kami,” ujarnya.
Menurut Rona, hidup dan mati manusia adalah kehendak Tuhan, tetapi meninggalnya anak kami masih pada jam sekolah dan pergi berenang dibawah pengawasan pihak sekolah. Tentunya pihak sekolah harus bisa bertanggung jawab dan menjelaskan penyebab meninggalnya anak kami, ujarnya.
Diakuinya, kalau tidak salah, hari ketiga pasca meninggalnya Edison, Kepala sekolah bersama para guru datang kerumah. Mereka datang dengan membawa kue dan ingin menyerahkan uang sebesar Rp. 3 juta sebagai uang duka. Tetapi kami menolak, karena bagi kami bukan semata-mata soal uang, namun yang paling penting, pihak sekolah dan Yayasan yang menaungi SD Narwastu bisa menjelaskan penyebab tewasnya ànak kami saat kegiatan renang oleh pihak sekolah.
Rona menuturkan, hingga saat ini pihak sekolah tidak pernah lagi datang. Apalagi pihak pemilik Yayasan, sejak peristiwa sama sekali tidak menemui kami. “Inilah nasib orang miskin. Mungkin karena status sosial kami makanya mereka anggap remeh keluarga kami,” tuturnya.
“Kami tidak bisa berbuat banyak atas peristiwa yang menimpa keluarga, selain hanya menunggu itikad baik dan rasa prikemusiaan dari pihak Yayasan dan sekolah SD Narwastu,” lirihnya.
Ditempat terpisah, Kepala Sekolah SD Narwastu, Aci Verwati, S Pd yang dikonfirmasi diruang kerjanya terkait peristiwa meninggalnya Edison, membenarkan peristiwa naas di kolam renang Kwantan Regency yang menyebabkan Edison meregang nyawa, saat kegiatan outdoor sekolah pada bulan Maret 2018 lalu, terang Aci.
Dikisahkan Aci, Almarhun Edison bersama teman satu kelas yang berjumlah 30 orang dengan dibimbing atau didampingi 2 orang guru, dan untuk kegiatan tersebut masing-masing siswa membayar Rp.35.000 untuk biaya renang, terang Aci.
Ditanya, apakah kegitan renang dilaksanakan di luar lokasi sekolah (outdoor) merupakan bagian dari Kurikulum dan dalam pelaksanaan sudah sesuai dengan Standard Operasional Pelayanan (SOP). Menurut Aci, kegiatan renang merupakan bagian dari mapel olahraga. Membawa anak-anak berenang sudah biasa dilakukan SD Narwastu, sebagaimana sekolah lain juga melakukan hal yang sama. Mereka di bimbing oleh guru ditambah petugas pihak pengelola kolam renang, akunya.
Menurut Aci, atas peristiwa meninggalnya eks siswa kelas III itu, pihak sekolah sudah melakukannya sesuai dengan kemampuan. Saat peristiwa pihaknya langsung membawa korban kerumah sakit untuk pertolongan dan membayar biaya di Rumah sakit hingga menyerahkan almarhum kepada keluarga, sebutnya.
Sebagai bentuk penghargaan dan empati, tiga hari sesudah edison dimakamkan, seluruh guru dan beberapa siswa mendatangi keluarga dan ingin menyerahkan uang duka yang dikumpul dari para guru dan siswa sebagai bentuk empati. Tetapi orang tua almarhum menolak.
“Mereka menginginkan kehadiran pihak sekolah beserta pemilik Yayasan selaku pemggung jawab SD Narwastu untuk menjelaskan penyebab meninggalnya Edison,” urainya.
Singkat cerita dan inti yang diinginkan orang tua almarhun adalah, pemilik Yayasan datang menemui mereka. “Saya selaku kepala sekolah rasanya telah melakukan tanggung jawab sesuai dengan tupoksi. Dan keinginan orang tua almarhum telah disampaikan kepada pemilik. Dan ketua Yayasan dalam hal ini JP. Simajuntak meminta menunggu hari baik untuk menemui orang tua almarhum, urai Aci lagi.
Ditanya alasan JP.Simanjuntak selaku pemilik Yayasan yang dinilai enggan dan mengulur ulur waktu untuk menemui orang tua almarhum. Aci tidak bisa berkomentar, “biar lebih jelas silahkan hubungi ketua Yayasan,” ujarnya.
Saat kembali ditanya kronologis meninggalnya Edison. “Saya tidak bisa menjelaskan peristiwa di lokasi kolam renang, yang saya ketahui sesudah di rumah sakit”.pungkasnya.
Salah seorang warga yang enggan di sebut jati dirinya, sangat menyangkan sikap pihak yayasan dan Sekolah SD Narwastu, yang seolah tidak peduli dengan perasaan orang tua almarhum. Anaknya meninggal saat jam sekolah, tentunya mereka harus menunjukkan tanggung jawab sosial dan moral. “Janganlah memandang sebelah mata kepada masyarakat miskin. Bagaimana kalau anak mereka yang terkena musibah seperti yang dialami keluarga almarhum,” cetusmya.**(jsn)






















































