MEDAN, SUARAPERSADA.com – Untuk menyambut Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, Kapolda Sumut mengundang pemuka agama se-Sumut dalam hal silaturahmi di Mapolda Sumut.
Masyarakat Sumatera Utara diminta peka terhadap keadaan dan kondisi sekelilingnya karena aksi terorisme berpotensi di wilayah ini.
“Ada, semua daerah berpotensi aksi terorisme,” ujar Kapolda Sumut, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, kepada wartawan, usai bersilaturahmi dengan para pendeta, pastur dan pemuka agama Budha se-Sumut di Aula Tribrata Mapolda Sumut, Rabu (22/12).
Kapolda mengakui, semua daerah berpotensi adanya aksi terorisme. Sebab itu, perlu kepedulian masyarakat sebagai langkah antisipasi dini terhadap gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Menurut dia, silaturahim tersebut berkaitan dengan pengamanan dalam rangka perayaan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017. Silaturahim untuk berdialog dan sharing informasi sekaligus mengucapkan terima kasih atas kerja sama selama ini dalam menjaga kamtibmas dan persatuan dalam keberagaman.
“Menghadirkan kembali negara untuk melindungi bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat proaktif memberikan pengamanan baik diminta oleh masyarakat maupun tidak diminta,” katanya.
Kapolda mengatakan, mobilisasi masyarakat pada Natal dan Tahun Baru cukup tinggi, terutama di tempat ibadah, pusat perbelanjaan, lokasi wisata, jalur transportasi darat, laut dan udara.
Sumatera Utara salah satu barometer keamanan Indonesia yang penduduknya sangat heterogen seperti pengalaman di Sumut terjadinya penembakan Pendeta Jam Surbakti (Oktober 2000), Curas di Bank Lippo Medan (Mei 2003), perampokan di Bank CIMB Niaga Medan (Agustus 2010), dan penyerangan di Mapolsek Hamparan Perak (Sept 2010).
Kemudian, percobaan bom bunuh diri di Gereja Santo Yosep (Agustus 2016), peristiwa intoleransi kegiatan keagamaan di gedung Sabuga Bandung, serta temuan bom panci di Bekasi dan penangkapan beberapa orang terduga teroris diantaranya ada dua orang perempuan, DYN dan IPS.
Dalam pengamanan itu, sambung Kapolda, personel berbagai satuan akan dilibatkan di gereja-gereja (giat ibadah, orang, parkir, tas), tempat-tempat digunakan perayaan Natal (gedung, lapangan, rumah), tempat keramaian (objek wisata, hotel, mall, Obvit, tempat-tempat perayaan Tahun Baru dan simbol-simbol asing), serta pemukiman Tionghoa.
Dalam kaitan itu, Kapolda berharap kepada para pendeta, pastur dan pemuka agama Budha untuk sama-sama membantu dan berkomitmen menjaga situasi kamtibmas terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.
“Kita memohon kerja sama yang sinergis dari semua tokoh agama untuk membina masyarakat agar menumbuhkan sikap toleransi dan mayoritas melindungi minoritas, dan yang minoritas menghormati yang mayoritas dan mari bersama-sama mencegah radikalisme serta menjaga kerukunan antara umat beragama,” pintanya.
Kapolda menambahkan Kapolda dalam rangka keaman Natal dan Tahun Baru 2017 Petasan maupun kembang api di larang serta siapa yang melaksanakan sweeping atribut Natal apapun bentuknya akan diberikan tindakan hukum sesui peraturan.
Acara tersebut juga dihadiri Waka Polda Sumut Brigjen Adhi Prawoto, para pejabat utama, pendeta, pastur dan pemuka agama Budha Sesumatera Utara.**Win























































