PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Puluhan orang tua murid SMPN 26 Pekanbaru, yang beragama Kristen menggelar aksi protes di Kantor Dinas Pendidikan kota Pekanbaru. Dalam aksinya, mereka menuding Kepala Sekolah SMPN 26 Pekanbaru, Asmarita Nasir, MA bertindak diskriminatif terhadap siswa/siswi beragama kristen. Pasalnya, sudah dua tahun para siswa beragama kristen saat mengikuti pelajaran agama selalu belajar di luar ruangan kelas alias dibawah pohon, karena kepala sekolah tidak mengijinkan memakai ruangan.
Tobing, salah seorang wali murid menuturkan, kami tidak terima kebijakan Kepala sekolah, anak-anak saat mengikuti pelajaran agama, selalu di luar ruang kelas. Dan kejadian ini sudah berlangsung selama dua tahun. “Sebelumnya, sudah dilakukan pertemuan dan pihak sekolah berjanji akan memfasilitasi ruang belajar kepada anak anak beragama kristen saat belajar agama,” tuturnya.
Anehnya kata Tobing, satu hari sesuadah pertemuan, lagi-lagi kepala sekolah membuat kebijakan sepihak. Dengan menskorsing guru agama Kristen tidak dibenarkan mengajar selama dua hari. “Kami tidak terima kebijakan tersebut,” tegasnya.
Kedatangan puluhaan orang tua siswa ini, diterima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kotta Pekanbaru, Prof. Zulfadil, SE, MBA dan menggelar pertemuan dengan beberapa perwakilan orang tua di ruang kerja Kadisdik Pekanbaru.
Usai pertemuan, Kadisdik Pekanbaru menjelaskan, permasalahan ini sifatnya internal sekolah. “Kita akan selesaikan secepatnya. Hari ini juga kita akan turun ke SMPN 26, untuk menyelasaikan permasalahan sesuai tuntutan orang tua siswa,” tegasnya.
Zulfadil juga menyampaikan terimakasih kepada para wali murid, yang menyampaikan langsung persoalan tersebut ke Dinas Pendidikan. “Sehingga tidak berlarut-larut dan anak-anak bisa belajar dengan baik,” tutupnya.
pala sekolah SMPN 26 Pekanbaru, Asmarita Nasir yang dikonfirmasi, terkait tudingan para wali murid tersebut. Dengan tegas membantah dan menampik apa yang disampaikan beberapa wali murid tersebut. Menurutnya, pihaknya tidak pernah membedakan siswa dalam proses belajar mengajar. Hanya saja kata Asmarita, ruangan kelas sudah terpakai seluruhnya. “Jadi jika siswa yang beragama kristen belajar agama kita gabung,” ujarnya.
Sebaliknya Asmarita menuding guru agama kristen tersebut yang menjadi sumber masalah. “Dia terkesan mempengaruhi wali murid supaya melakukan protes,” pungkasnya.**(jsn)





















































