Ketua LSM IPMPL Dorong Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Penyebab Longsor Dan Banjir Desa Simpang Ayam

0
43

BENGKALIS, SUARAPERSADA.com- Ketua LSM-IPMPL, Solihin mendorong Pemerintah agar membentuk tim Ivestigasi  penyebab terjadinya longsor dan banjir yang melanda desa Simpang Ayam Kabupaten Bengkalis Riau yang menyebabkan ratusan hektar lahan perkebunan sawit milik PT.Agro Sarimas (ASM) dan lahan pertanian masyarakat bahkan lahan kosong amblas.

Kepala Desa Simpang Ayam, Mujiono menyebutkan, penyebab terjadi nya longsor diduga kuat akibat kanal-kanal yang di bangun  Perusahan sawit yang beroprasi didesa mereka. Pasalnya, lahan yang longsor merupakan lahan gambut dan labil dengan kedalaman diperkirakan 4 hingga 7 meter. Sementara kanal- kanal yang di bangun oleh perusahan tidak sampai ke tepi laut sebelah utara. Sehingga saat  terjadi banjir, kanal- kanal  tidak mampu menampung air.
Ditambah lagi dengan hantaman ombak Selat Malaka, terang Kades, Minggu (11/12/2022).

Tudingan Kades Simpang Ayam tersebut dibantahkan Direktur PT.ASM, Irawan. Karena menurut Irawan, pihaknya membangun kanal- kanal dengan membuat pembuangan air ke bagian barat. “Penyebabnya semata-mata oleh abrasi pantai akibat ombak selat Malaka”.aku Irawan.

Menanggapi usulan dibentuknya Tim investigasi  penyebab longsor dan banjir, direktur  PT.ASM, Irawan sangat mendukung , karena pihaknya tidak mau di tuding, longsor dan banjir diakibatkan kanal perusahan.

Sebelumnya,Ketua  LSM IPMPL, Solihin menyebutkan, untuk mengungkap penyebab bencana di desa Simpang Ayam perlu dibentuk tim investigasi. Tim ini nantinya akan menelusuri mulai dari awal PT.ASM memperoleh lahan di wilayah tersebut. Selanjutnya mengenai pendanaan pengolahan lahan dengan masyarakat yang tergabung dalam Koperasi Miskom Sejati, kata Solihin.

Menurut Solihin, kalau tidak keliru berdasarkan Kepres No :32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan hutan lindung, bahwa kriteria kawaan hutan lindung salah satu nya adalah ketebalan gambut yang melebihi dari tiga meter tidak bisa di bebani hak izin, sedangkan di tempat kejadian longsor diperkirakan gambut nya mencapai kurang lebih 4 hingga 7 meter kedalamanya. “Nah, inilah yang perlu di gali akar persolannya, supaya jelas dan tuntas” ungkap Solihin.

Sumber informasi yang dirangkum media ini, sejak penanaman Sawit yang di kelola oleh PT.ASM hingga saat ini dan diperkirakan tidak lama lagi masuk masa  revlanting, namun masyarakat yang tergabung dalam Koperasi Miskom Sejati masih di dibebani hutang pembangunan dan pemeliharan kebun.

Menurut sumber lagi, tak tanggung-tanggung, bahwa hutang masyarakat disebut mencapai Rp90 juta per-hektare. Dimana hutang dimaksud disebut-sebut menggunakan uang dari sejumlah perbankan.

Ironis nya menurut sumber, diduga pinjaman uang dari Perbankan, dan masyarakat pemilik lahan sebagai debitor tidak mengetahui adanya hutang. Karena yang menanda tanganni hanya ketua-ketua kelompok bersama pihak koperasi, ungkap sumber.

Masyarakat berharap, jika tim investigasi dibentuk, maka persolan yang terjadi sejak pengarapan lahan, pendanaan, pembuatan kanal, hingga longsor terjadi  bisa diungkap sebelum semuanya tinggal kenangan, harap sumber.***

Tinggalkan Balasan