Beranda Breaking News Sekwil SERBUNDO Riau : “Perkebunan Kelapa Sawit, Anomali Buruh Sejahtera dan Pengusaha...

Sekwil SERBUNDO Riau : “Perkebunan Kelapa Sawit, Anomali Buruh Sejahtera dan Pengusaha Kaya”

25
0
Sekretaris Wilayah Serikat Buruh Pekebunan Indonesia Riau, Batara Harahap

PEKANBARU, SUARAPERSADA. com– Sekretaris Koordinator Wilayah (Sekwil) Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (SERBUNDO) Riau, Batara Harahap mengungkapkan,  bahwa Sektor Perkebunan kelapa sawit salahsatu penyumbang devisa terbesar kepada Negara.

Bahkan ditengah pandemi Covud-19 yang melanda seluruh dunia, kelapa sawit tetap menjadi andalan penopang ekonomi nasional.

Dimana tahun 2019 lalu, sektor perkebunan kelapa sawit sumbang devisa negara sebesar USD 53, 7 Miliar atau setara dengan Rp. 7,840 Triliun,  Hal tersebut disampaikan Batara Harahap kepada sejumlah media di Posko Serbundo peduli Covid-19, Jalan Durian Pekanbaru,  Ahad (26/7).

Hanya saja kata Batara,  tingginya devisa dari sektor perkebunan Kelapa Sawit ini tidak diikuti atau didukung oleh Pemerintah dan pengusaha untuk mensejahterakan para buruh dan keluarganya. Hal inilah salah satu penyebab berkurang Ethos kerja buruh, ujarnya.

Diuraikan Sekwil Serbundo Riau ini lagi, setidaknya ada dua alasan kuat membuat semangat kerja buruh berkurang.

Pertama, buruh kita masih didominasi status Buruh Harian Lepas (BHL), jika dikonversi mencapai angka dikisaran 68 persen.

Kedua, khusus di Riau, mayoritas pengusaha belum menerapkan sistim pengupahan yang layak sebagaimana ditetapkan pemerintah, dengan kata lain masih banyak buruh yang menerima upah dibawah  Upah Minimum Sektor Perkebunan (UMSP).

“Padahal kita sangat tahu bahwa  resiko kerja pada sektor ini cukup tinggi dibanding sektor lain,” paparnya.

Menurutnya, sudah saatnya Pemerintah serius merumuskan aturan-aturan yang berpihak kepada buruh, termasuk soal pengawasan yang melekat terhadap pelaku usaha pada perkebunan Kelapa Sawit. Jangan terjadi lagi,  dimana negara malalui Dinas Tenaga Kerja melakukan pengawasan setengah hati.

“Bahkan disinyalir, adanya kongkalikong antara pengusaha dan oknum pegawai yang bertugas sebagai pengawas, sehingga kesejahteraan buruh selalu terabaikan,” ulasnya.

Lagi kata Batara, miris rasanya, jika berdalih bahwa OPD terkait,  dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja tidak memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai.  Karena kondisi ini sudah berlangsung  puluhan tahun tanpa solusi, tegas Batara.

Ilustrasi Buruh Perkebunan Kelapa Sawit

Batara menyebutkan, menjadi anomali, ketika keuntungan yang dibukukan perusahaan setiap tahun tidak sebanding dengan harapan kesejehteraan yang seharusnya dinikmati oleh buruh dan keluarganya. Hal lainnya, terkait sistim kerja pada sektor perkebunan Kelapa Sawit masih menganut sistim “Perbudakan moderen”.

Mengapa demikian ? Mari kita jujur dan mengakui, bagaimana seorang pimpinan perusahaan pada level apapun itu memperlakukan buruh layaknya jaman penjajahan Belanda.

“Dengan membentak-bentak, bahkan tak jarang buruh merasa diintimidasi. Apakah kita akan merawat dan pertahankan hal-hal demikian ?” ujar Batara.

Lanjut Batara, trend positif harga komoditi Kelapa sawit sepanjang tahun 2019, menjadi pertanda baik bagi peningkatan ekonomi kita, meskipun sedikit menurun dari tahun sebelumnya.

“Namun saya tetap optimis, bahwa sektor kelapa sawit masih menjadi primadona sebagai penyumbang devisa negara setidaknya 15 hingga 20 tahun mendatang. Dan Serbudo akan hadir, mendukung pemerintah dan berjuang untuk kesejahteraan para buruh perkebunan,” pungkasnya.**(frans)

Tinggalkan Balasan