SEI BUATAN, SUARAPERSADA.com – Manajmen PT Inti Indosawit Subur (IIS) memberikan bantuan berupa susu, telur,vitamin kepada M Farel Rivaldo (6 tahun), seorang penderita Hidrosefalus (sejenis penyakit yang menyerang organ otak yang menyebabkan bagian kepala membengkak, Red).
Pemberian bantuan makanan suplemen dan vitamin tersebut diserahkan langsung Erwin Suprapto, staf HRD PT IIS kepada ibunda Farel Rivaldo, Nur Aina (38) di rumahnya di Jalan Gurami, Kebun 02 Buatan, Selasa (28/4/15).
Dalam menyerahkan bantuan tersebut Erwin didampingi Humas Kebun Buatan PT IIS, Lindu Simatupang dan staf Tata Usaha Syafrianto Silalahi serta dokter M Zia Ulhag dan staf medis dari Klinik perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.
Ditambahkan Erwin, jika orangtua Farel, Nur Aina dan Bustami setuju untuk berobat, pihak perusahan siap merujuk penderita Hidrosefalus ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru.
“Semua biaya perusahaan yang menanggung. Kita kan punya program CSR (Corporate Social Responsibility atau program kepedulian perusahaan terhadap karyawan dan masyarakat di sekitar operasional perusahaan, Red),’’ ungkapnya.
Sementara itu, dokter Klinik PT IIS Kebun Buatan mengatakan, penanganan penderita Hidrosefalus (Farel) harus cepat dilakukan. Jika tidak penyakit penyerta lain akan mengidap ke tubuh Farel. Apalagi, dari rekaman medis dari Rumah Sakit Amelia Medika di Pangkalan Kerinci sudah menemukan penyakit penyerta yakni Tuberkulosis (TB). Penyakit tersebut diduga ditularkan oleh sang bapak, Bustami.
Dokter Zia Ulhag menyebutkan, yang terpenting dalam pengobatan seorang penderita penyakit seperti TB adalah perilaku hidup sehat. Pihak perusahaan sendiri sebenarnya telah menyiapkan fasilitas kesehatan untuk seluruh karyawannya.
“Setiap bulan kami bekerja sama dengan Posyandu, pihak Puskesmas melakukan kontroling dan konsultasi dan pengobatan terhadap ibu dan balita yang ada di lingkungan Kebun Buatan. Tetapi kebanyakan dari keluarga pekerja kurang memanfaatkan faslitas ini,’’ tuturnya.
Bahkan, untuk melayani kesehatan karyawan di Kebun Buatan, tim medis dari Klinik PT IIS tak sungkan sungkan mendatangi warga ke rumah mereka masing-masing.
Bukan Gizi Buruk
Sementara itu, Rosma, Direktur RS Amelia Medika Pangkalan Kerinci menyebutkan, M Farel Revaldo bukan pasien penderita gizi buruk tetapi memang menderita Hidrosefalus. Rosma tahu persis record medis Farel, karena pihaknya lah yang pertama kali merujuk anak keempat dari 6 bersaudara pasangan Bustami dan Nur Aina berobat ke RSUD Arifin Achmad dan RS Ibnu Sina Pekanbaru.
“Kepastian Farel menderita Hidosefalus ditentukan dari hasil City Scan pihak RS Ibnu Sina Pekanbaru tanggal 27 April 2012,’’ ungkapnya.
Rosma juga tak menyangkal jika orang tua Farel, Bustami menderita penyakit TB. Ironisnya, Bustami terkesan malu membawa Farel untuk berobat. Padahal, biaya pengobatan anaknya waktu itu sudah ditanggulangi RS Amelia Medika yang memang sudah bekerjasama dengan pihak PT IIS dalam pelayanan kesehatan karyawannya.
Pengakuan Rosma ini dibenarkan dokter Klinik PT IIS Buatan, dokter Zia Ulhag. Diakuinya, setiap ada Posyandu orangtua Farel jarang membawa anaknya. Sehingga ketika diketahui ada anak karyawan PT IIS (Farel, Red) menderita Hidrosefalus, tim dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pelalawan langsung turun.
“Kita dari Klinik dan Dinkes pernah melakukan pembinaan terhadap pasien Farel selama lebih kurang satu setengah bulan. Berat badan Farel sempat naik. Tapi kini kondisi Farel, dilihat dari berat badan dan tinggi badan tidak ada perkembangan. Satu satu jalan, yakni merujuk Farel kembali berobat ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru,’’ sarannya.
Prihatin
Staf Tata Usaha PT IIS Kebun Buatan Syafrianto Silalahi mengaku kaget mendengar adanya anak karyawannya menderita Hidrosefalus. Apalagi setelah ada pemberitaan yang mengatakan, Farel menderita gizi buruk.
Betapa tidak, rasanya tidak mungkin hal itu terjadi. Dari penghasilan orangtua Farel yang merupakan karyawan Bulanan (PB) setiap bulannya, sang ayah menerima gaji ditambah premi (semacam bonus atau lembur) antara Rp4 sampai Rp6 juta. Penghasilan tersebut ditambah jatah beras yang mencapai 26,5 kilogram per bulannya.
Di samping itu, khusus untuk Farel, pihak perusahaan juga telah memberikan ransum yang terdiri dari susu, gula, telur sebanyak lima kali dari 26 Februari sampai 5 Mei 2014. Bahkan menurut keterangan staf medis Bagian Gizi Puskesmas, Tengku Zulfan selama 90 hari, Farel sempat diberikan makanan tambahan (PMT). Jenis obat dan ransum dari Puskesmas tersebut berupa 40 kotak susu bubuk SGM 4, 20 biskuit Marie, sirup Scout Emulsion, Sirup Fitcom dan obat cacing Combantrin.
“Pemberian PMT itu disertai penjelasan tata cara pemakaian obat langsung kepada Ibu Rivaldo. Dan senantiasa didampingi oleh manajemen perusahaan. Itu lah bukti bahwa perusahaan memperhatikan Farel Rivaldo,’’ pungkasnya.***(Rilis)






















































