Pentingnya Moralitas dan Etika Keagamaan dalam Pembangunan

0
1300

Menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal bagi generasi muda tentunya harus disertai dengan pendidika mentalitas, moral dan etika yang baik. Hal ini memang tidak mudah untuk dilaksanakan, mengingat kemajuan teknologi yang disertai dengan pengaruh budaya barat belakangan ini sangat berdampak kepada prilaku generasi muda kita.

Pemerintah provinsi Riau menilai keberhasilan mendidik dan membentuk serta menumbuhkan akhlak mulia, moral, budi pekerti atau karakter peserta didik merupakan langkah paling fundamental untuk membentuk karakter bangsa.

Sebahagian besar cita-cita yang ingin dicapai oleh masyarakat Riau tertuang dalam Visi Riau 2020. Namun, tinggi dan luhurnya suatu cita-cita masyarakat itu diukur dari sejauh mana cita-cita tersebut mengandung nilai agama, filosofi, moral dan budaya.

Filosofi pembangunan daerah pemerintah Provinsi Riau mengacu kepada nilai-nilai luhur kebudayaan Melayu sebagai kawasan lintas budaya yang telah menjadi jati diri masyarakatnya sebagaimana terungkap dari ucapan Laksamana Hang Tuah, “Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Takkan Melayu Hilang di Bumi”.

Pilihan untuk menetapkan rumusan Visi Riau 2020 seperti tersebut di atas, tentunya didasari oleh pertimbangan yang amat matang dengan menggali nilai-nilai filosofis yang berakar dari budaya dan kehidupan masyarakat Riau yaitu budaya Melayu. Dan kalau kita berbicara tentang Melayu, mau tidak mau pastilah berkaitan dengan Islam. Karena Islam (Syariat Islam) itu menjadi bingkai tempat terkaitnya budaya Melayu. Bahkan dalam konteks budaya, penggunaan kata Melayu dan Islam seringkali saling mengisi dan merujuk satu dengan yang lain.

Dalam mewujudkan Visi Riau 2020 tersebut, Pemerintah Provinsi Riau telah menyatakan komitmen dan melakukan berbagai langkah strategis pembangunan. Hal tersebut semuanya terangkum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Riau tahun 2014-2019.

Dalam RPJMD itu terdapat sembilan penekanan yang salah satunya menyangkut keagamaan yaitu, “pembangunan masyarakat yang berbudaya, beriman dan bertaqwa”.

“Semua penekanan itu mengarah kepada pembangunan dan kesejahteraan untuk masyarakat,” ujar pelaksana tugas (plt) Gubernur Riau, Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA, beberapa waktu lalu.

Demi memantau kinerja dan program-program tersebut dan sejalan dengan APBD Riau 2016, Gubri Arsyadjuliandi Rahman mengaku akan memantau secara terjadwal Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau. Tujuannya, agar kegiatan yang dijalankan masing-masing SKPD tidak keluar dari jalur RPJMD yang sudah disahkan.

Arsyadjuliandi juga mengatakan, pencapaian yang ingin diwujudkan melalui pokok-pokok visi tersebut adanya keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi melalui pelayanan dasar yang berkualitas, infrastruktur yang memadai dan pembangunan berkelanjutan dengan aparatur yang andal dan tetap berada dalam nilai agama, filosofi, moral dan budaya.

Hal tersebut tersampaikan saat Apel Akbar Hari Santri Nasional diadakan di Halaman Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru (6/10/16) lalu. Seitar Empat ribu santri dari 12 kabupaten/kota di Riau hadir pada kegiatan ini.

Dalam sambutannya, Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman mengatakan bahwa banyak tokoh nasional lahir dari lingkungan Ponpes. Banyak lulusan santri-santri yang telah berhasil menunjukan eksistensinya didalam berpolitikan dan kemimpinan Indonesia. Seperti, Menteri Ketenagakerjaan RI, M Hanafi Dahkiri dan Khofifah selaku Menteri Sosial RI, ujar Gubri mencontohkan.

Gubri berharap agar para santri harus menunjukan eksistensinya, karena Menteri Ketenagakerjaaan, Menteri Sosial juga alumni pesantren. Seiring dengan perkembangan global perubahan budaya yang tak terelakan, santri harus memberikan respon positif dan mengikuti perkembangan tersebut dalam suatu hal yang positif.

Para santri untuk dapat menjadi agent of change, dan pesantren dituntunt untuk pertahankan pendidikan keagamaan diera globalisasi. Agar santri menjadi pribadi muslim kedepan, antara imtek dan impek, dan diharapkan menteri untuk bisa ikut sertakan balai pelatihan di pondok pesantren.

Hal ini menunjukkan eksistensi santri dalam dunia politik dan kepemimpinan di Indonesia. Ini harus jadi motivasi bagi para santri untuk terus membangun Indonesia lebih maju ke depannya tanpa lupa akan pendidikan agama.

Perubahan global begitu cepat terjadi saat ini. Gubernur mengajak santri menanggapinya dengan positif dan tetap mengikuti perkembangan zaman, terlebih pesantren sekarang banyak yang sudah berbasis teknologi.

Santri juga dituntut menjadi agent of change (agen perubahan). Di zaman persaingan global ini, santri harus bisa menyelaraskan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) dan tetap menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa.

Pesantren Sebagai Lembaga Penempah SDM Berakhlak Mulia

Ribuan santri saat mengikuti apel akbar hari santri Nasional di halaman kantor Gubernur Riau
Ribuan santri saat mengikuti apel akbar hari santri Nasional di halaman kantor Gubernur Riau

Peran serta lembaga pendidikan seperti pondok pesantren diharapkan bisa menempah sosok generasi yang berakhlak mulia demi meneruskan cita-cita pembangunan kedepan.

Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan pondok pesantren (ponpes) di Riau, Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman Gubernur Riau sangat optimis kedepan Riau akan semakin aman dan kondusif, hal tersebut disampaikannya ketika mendampingi Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri saat meresmikan gedung asrama ponpes Al Mujtahadah di Jalan Handayani Kartama Pekanbaru, Kamis (06/10/16).

“Saya merasa yakin kalau pesantren semakin banyak, maka Riau akan semakin aman,” ujarnya..

Dalam peresmian tersebut, selain dihadiri Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dakhiri, hadir juga Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, Ahmad Hijazi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau, Kamsol, Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi dan Kependudukan, Rasyidin Siregar serta Calon Walikota Pekanbaru, Ramli Walid.

Ponpes Al Mujtahadah yang didirikan oleh Prof. KH. Ahmad Mujahidin sekitar tiga tahun yang lalu ini terletak di Jalan Handayani Kartama Pekanbaru.

Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan, Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan pemerintah pusat telah menaruh perhatian khusus kepada santri, ulama dan kiai. Perhatian khusus tersebut dengan menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Penetapan itu karena pemerintah menilai peran santri, ulama dan Kiai dalam perjuangan kemerdekaan memiliki peran yang besar. Hal itu dikatakan Menteri ketika menghadiri apel akbar Hari Santri Nasional tingkat Provinsi Riau, di halaman kantor Gubernur Riau, Kamis (6/10).

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman dalam arahannya kepada santri mengatakan, santri juga harus bisa mengikuti perkembangan yang ada saat ini. Santri juga memiliki peran dalam pembangunan dengan meningkatkan ilmu pengetahun dan teknologi. Selain iman dan taqwa yang ada pada diri santri juga, ilmu pengetahuan dan teknologi.**(Adv/HmsRiau)

Tinggalkan Balasan