Mengais Rejeki di Tradisi Festival Lampu Colok

0
578

BAGANSIAPIAPI, SUARAPERSADA.com-Hampir sebagai besar daerah di Provinsi Riau memiliki tradisi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Salah satu tradisi tersebut yang masih hidup sampai hari ini adalah Festival Lampu Colok.

Lampu colok adalah sebutan dari alat penerangan yang jaman dulu terbuat dari bambu berbahan bakar damar. Sering waktu, damar digantikan oleh minyak tanah. Dan pengguna bambu juga tergerus dan digantikan dengan kaleng atau botol bekas minuman.

Festival Lampu Colok yang digelar setiap tahun menyambut Idul Fitri atau Lebaran ini membawa berkah terhadap Warisno (43). warga Bagan Punak. Sepekan jelang Idul Fitri ia memang rutin menjual lamp colok dari bahan botol-botol bekas.

“Iya lumayanlah, saya cari botol dan buat lampu colok untuk dijual ke masyarakat Bagansiapiapi,’’ kata Warisno.

Ayah 4 orang anak ini menjelaskan, setiap 3 lampu dijual seharga Rp.5.000. namun banyak juga dari masyarakat yang menawar dan meminta 4 lampu dengan harga Rp.5000.

Diakui Warisno sejak 3 hari terakhir sudah lebih dari 1000 buah botol yang ia jual laku terjual. Biasanya selaian keliling di Kota Bagansiapiapi ia juga membuka lapak di Pasar Datuk Rubih.

Saat ditanya kesulitan dalam membuat lampu colok ini, ia mengaku saat mencari bahan baku botol bekas M150 yang mulai sulit ditemukan. ‘’Makanya saya cari sebelum bulan puasa dulu, kalau sekarang sudah banyak yang mencari baik untuk dijual maupun pakai sendiri,’’ katanya.

Pria yang sehari-hari bekerja mencari asongan dan menjual koran ini mengaku, hasil yang ia dapat biasanya untuk keperluan untuk Lebaran, baik membuat kue maupun membeli baju untuk anak-anaknya.

‘’Lumayanlah paling tidak hampir sejuta juga kalau habis 3000 buah lampu colok,’’ jelasnya.***(JARMAIN)

Tinggalkan Balasan