PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Untuk kesekian kalinya, puluhan mahasiswa yang menamakan diri Himpunan Mahasiswa Ocu Kampar Pekanbaru (HMOK-Pku) kambali berunjukrasa di halaman kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Senin (14/9).
Dalam aksinya itu, massa HMOK Pku mempertanyakan mandeqnya pengusutan sejumlah kasus dugaan korupsi di Kabupaten Kampar. Terutama Kehadiran mereka ke Kejati Riau untuk mempertanyakan perkembangan kasus korupsi Kampar, khususnya dugaan korupsi Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Kubang.
“Kami menilai Kejati Riau ini mandul. Tidak berani memeriksa dan memanggil Bupati Kampar Jefry Noer. Padahal data sejumlah kasus korupsi itu sudah kami laporkan ke Kejati sejak 2012. Sudah tiga kali pula pucuk pimpinan Kejati Riau diganti. Tetapi Jefry Noer tidak juga diusut!” teriak Rahmad Yani, Koordinator Lapangan (Korlap) HMOK Pku dalam orasinya.
Menurut Rahmat, untuk kasus dugaan korupsi P4S tersebut sebanyak Rp1 triliun dana APBD Kabupaten Kampar telah digelontorkan. Modus yang dilakukan Bupati Kampar Jefry Noer, dengan cara memindahkan seluruh kegiatan dinas dan badan di tempat P4S, yang tidak lain adalah milik pribadi sang bupati.
Terlepas soal itu, unjukrasa yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kisruh. Ketika massa yang hanya sepuluh orang itu memaksa untuk bertemu dengan Kepala Kejati (Kajati) Riau, Susdiarto Agus Praptono. Pihak yang menerima mahasiswa ini sudah menyatakan, Kajati Riau sedang tidak ada di tempat. Namun, massa HMOK Pku tetap maksa untuk melakukan “sweeping” ke ruang kerja orang nomor 1 di lembaga kejaksaan Riau tersebut.
Buntutnya, salah seorang pendemo terlibat perang mulut dengan aparat kepolisian yang mengawal jalannya aksi unjukrasa tersebut. Bahkan salah seorang pendemo nyaris saja menendang Wakapolsek Pekanbaru Kota AKP Yudi Indranaldi. Untungnya perwira polisi ini tidak terpancing oleh aksi seorang mahasiswa tersebut.
“Saya ini juga orang Kampar. Saya sangat peduli terhadap pembangunan Kabupaten Kampar. Tetapi tidak begini cara orang Kampar menyampaikan aspirasi,” tukas Yudi.
Ketegangan antara petugas kepolisian dengan massa HMOK Pku untungnya mereda saat Kasi Penkum dan Humas Kejati Riau, Mukhzan “menggaransi” akan mempertemukan para pengunjukrasa dengan Kajati Riau. Tetapi lagi lagi, massa aksi HMOK Pku ini tidak lantas percaya begitu saja.
“Kalau begitu tolong, janji Pak Kasi Penkum dan Humas Kejati dibuat secara tertulis. Soalnya, sudah tidak kali Kajati diganti, pengusutan kasus korupsi Kabupaten Kampar seperti dugaan korupsi jalan jalan ke luar negeri Jefry Noer dan keluarga, pengadaan baju koko sampai korupsi P4S kmapar tetap saja tidak jalan. Sudah empat tahun lho, Pak, kami adukan ke sini,” kata Indra Gumawan, Koordiantor Dem HMOK Pku.
Setelah bernegosiasi, akhirnya massa ini mau mengakhiri aksi mereka. Namun sebelum meninggalkan halaman kantor Kejati Riau, salah seorang pengunjukrasa mengancam akan datang lagi minggu depan dengan massa yang lebih banyak. Bahkan, jika nanti tuntutan mereka tidak juga ditanggapi, pendemo tadi nekat akan membawa bensin dan membakar diri di halaman Kejati Riau.
Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Mukhzan SH MH kepada wartawan sepeninggalan massa pengunjukrasa menyebutkan, aspirasi mahasiswa Kampar itu tetap ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan dengan memeriksa beberapa saksi.
“Hari ini saja ada sekitar 14 kepala desa dan mantan kepala desa dimintai keterangan terkait kasus kasus yang dilaporkan mahasiswa Kampar tersebut,” ungkapnya.***(Deden Yamara)






















































