PEKANBARU, SUARAPERSADA.com-Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Pekanbaru Prof DR Zulfadil,SE, MBA terlihat ikut berbaur dengan ribuan guru saat menggelar aksi demonstrasi damai melawan asap di Jalan Cut Nyak Dien, Jumat (22/10) pagi.
Dalam aksi ribuan guru yang tergabung dalam Forum Guru Melawan Asap Kota Pekanbaru, terlihat peserta demonstran membawa ratusan karton yang bertuliskan berbagai kecaman, tuntutan terkait kabut asap, menggelar aksi damai sebagai rasa simpatik keprihatinan kabut asap. Intinya mereka menyuarakan rasa keprihatinan terhadap kabut asap yang tak hentinya menyelimuti Kota Pekanbaru.
Koordinator Aksi yang juga Ketua Forum Guru Melawan Asap Kota Pekanbaru, Sahran Ritonga,SE,M Pd dalam orasinya menyebutkan, akibat kabut asap telah banyak korban dan Proses Belajar Mengajar jadi terkendala hampir 60 persen.
Oleh sebab itu, Forum Guru Melawan Asap Kota Pekanbaru mendesak Presiden RI Joko Widodo supaya bertindak cepat dan menghukum seberat beratnya para pelaku pembakar hutan dan lahan.
Selain menyuarakan berbagai keluhan, Sahran juga membacakan tiga butir tuntutan aksi damai para guru. Yakni, meminta Presiden RI, Ketua MPR RI,DPR RI, DPD RI untuk menetapkan status bencana asap provinsi Riau, Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi Bencana Nasional. Meminta kepada Presiden RI, agat serius menangani bencana asap di Riau, sehingga proses belajar mengajar guru dan siswa dapat berjalan kembali.
Ketiga, mendesak Presiden RI, Kapolri dan Jaksa Agung agar menindak dan menghukum seberat beratnya perusahaan dan perorangan yang membakar hutan atau lahan.
Kadisdik Pekanbaru Zulfadil dalam arahan dan orasinya, memberi apresiasi terhadap perhatian para guru terkait bencana asap yang mengepung Kota Pekanbaru, khususnya. Akibat kabut asap PMB sangat terganggu dan anak anak sudah ketinggalan pelajaran.
Menurut Zulfadil, sejak peristiwa datangnya asap di Pekanbaru, Pemko Pekanbaru melalui Disdik selalu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, khususnya dengan para Kepala Sekolah dan guru. Untuk mencarikan sulusi dan inovasi agar anak tetap belajar, urainya.
Ditambahkan Zulfadil, seringnya anak anak diliburkan, menyebabkan munculnya pro dan kontra dari orang tua siswa, juga komentar dari berbagai kalangan. Ada yang bertanya kenapa masih sekolah dan sebaliknya kenapa tidak diliburkan.
Untuk itu, pihaknya telah memberikan kewenangan bagi sekolah, membuat kebijakan untuk masuk dan meliburkan sekolah yang disesuaikan dengan kondisi asap.
“Kita juga secara rutin memantau kondisi asap. Rata rata tiga kali dalam sehari, selanjutnya di informasikan melalui media massa dan sosial”, paparnya.
Dia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah bekerja keras dalam upaya penanggulangan asap.
Selanjutnya kepada peserta aksi, Zulfadil meminta, usai menyampaikan aspirasi agar pulang ke sekolah masing masing dengan tertib. Mari ciptakan solusi dan inovasi yang inovatif agar ketertinggakan pelajaran siswa dapat dikejar.
“Mari kita tunjukkan bahwa kita seorang tauladan bagi anak anak dan masyarakat,” pungkasnya.
Pantauan Suara Persada, selama proses aksi damai berlangsung, situasi terap kondusif, hanya saja arus lalu lintas sedikit macet.***(jsn)























































