TOBASA, SUARAPERSADA.com – Ratusan warga Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir berunjuk rasa di gedung DPRD Sumut untuk memprotes perusakan Ekosistem Danau Toba. Orasi warga dimulai dengan Tarian Tor-tor dan di iringi musik khas Batak Toba.(26/01)
Mereka mengutuk beberapa perusahaan yang beroperasi di sekitar Danau Toba seperti PT Toba Pulp Lestari (TPL) massa meminta agar, Pemerintah dan DPRD Sumut mencabut ijin dan menutup, PT Alegrindo Nusantara, PT MIL, Simalem Resort, PT Gorga Duma Sari, dan PT Aquafarm Nusantara yang dinilai telah merusak ekosistem danau.
Sebastian Hutabarat dalam orasinya mengatakan, operasional perusahaan PT TPL yang telah lama beroperasi dan menimbulkan kerusakan besar dalam lingkungan hidup di kawasan Danau Toba. Salah satu kekesalan yang dirasakan warga Danau Toba adalah berita bohong yang menyebutkan warga sepakat untuk menanam pohon Eucalyptus di hutan sekitar Danau Toba.
“Kami tidak pernah setuju menanam eucalyptus,” kata Sebastian. Selama ini, warga sekitar Danau Toba lebih senang menanam pohon kemenyan yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
“Pendidikan anak-anak dari Danau Toba selama ini banyak dibiayai dengan kemenyan,” katanya.
DPRD Sumut juga diminta untuk tidak menyebar informasi palsu dengan menyebutkan masyarakat setuju penanaman ekaliptus.
Pimpinan aksi, Boy Marpaung mengatakan bahwa kondisi lingkungan Danau Toba saat ini sudah rusak akibat berdirinya perusahaan-perusahaan yang melakukan penebangan hutan serta perusahaan yang mencemari perairan Danau Toba dengan membangun keramba.
“Kondisi udara di kawasan Danau Toba juga sudah tercemar dengan menimbulkan bau busuk akibat beroperasinya PT.Toba Pulp Lestari di Kabupaten Toba Samsosir. Selain itu kondisi infrastruktur jalan di kawasan Danau Toba pun mengalami rusak yang berkepanjangan,” katanya.
Ditengah aksi, massa juga meneriaki nama Sukanto Tanoto. Mereka menyebut pemilik PT Toba Pulp Lestari (TPL) tersebut harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan akibat perambahan hutan. “Sukanto Tanoto atau Tan Kang Hoo harus melihat penderitaan bangsa Batak,” teriak massa.
Massa menyebutkan, sejak beroperasinya perusahaan yang dahulu bernama PT Indorayon Inti Utama (IIU) terus menciptakan kerusakan dibeberapa kabupaten seperti Toba Samosir, Humbang Hasundutan dan Simalungun. “Kami minta Sukanto Tanoto harus bertanggung jawab,”kata Boy Marpaung, pengunjuk rasa.
Salah seorang pengunjuk rasa terdapat warga negara Jerman yakni Thomas Heinle yang menikahi warga Samosir, Ratnauli Gultom dan tinggal menetap di Desa Silima Lombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir.
Menurut Thomas, Danau Toba sangat indah dan hampir dapat disebut seperti surga yang ada di dunia. “Kenapa TPL merusak keindahan Danau Toba,” katanya.
Aksi massa diterima anggota DPRD Sumut, diantaranya Budiman Nadapdap, Analisman Zalukhu dari PDIP, Mustofowiyah Sitompul (Demokrat), Juliski Simorangkir (PKB).
Dalam dialog dengan perwakilan pengunjukrasa, anggota dewan berjanji akan membahas persoalan itu pada pertemuan antar komisi dan selanjutnya menyampaikan keluhan masyarakat kepada Presiden Republik Indonesia. (win)


















































