PEKANBARU, SUARAPERSADA.com – Gelombang aksi Demo mahasiswa di Pekanbaru menyoal Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) serta asap pekat yang menyelimuti provinsi Riau terus berlanjut.
Jika sebelumnya hanya mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau yang menggelar aksi depan kantor Gubernur Riau dan berakhir ricuh dan memakan korban luka-luka dari kalangan mahasiswa dan Polisi. Namun, Selasa (17/9) kembali terjadi unjukrasa oleh mahasiswa dari perguruan tinggi Universitas Riau (UR) dan Universitas Islam negeri (UIN) Suska Riau dengan massa sepuluh ribuan.
Dalam aksi kali ini massa terbelah dua. Mahasiswa UIN Suska menggelar unjukrasa damai dengan aksi duduk di halaman kantor Gubernur Riau, semementara mahasiswa Universitas Riau (UR) menggelar aksi di depan Mapolda Riau.
Reski Lumban Tobing, kordinator Umum (Korum) aksi mahasiswa UIN Suska riau dalam pernyataan sikap menyatakan, atas nama Keluarga besar UIN Suska riau menyebutkan, bahwa pembakaran hutan yang terjadi sejak bertahun-tahun di Riau merupakan bukti nyata bahwa penguasaan dan pengelolaan hutan yang dikuasai oleh swasta maupun modal asing hanya mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat, terangnya.
“Bahkan, semakin mengakumulasi keuntungan bagi sekelumit kekuataan bermodal besar tanpa mempedulikan nasib ratusan juta rakyat lain yang sampai hari ini semakin sengsara oleh jeratan kemiskinan. Namun Pemerintah tidak tanggap dan terkesan main mata, terangnya.
Maka kami mendesak pemerintah provinsi Riau maupun Pemerintah pusat: 1. Tindak tegas dan mewajibkan perusahaan penyebab Karhutla memberikan fasilitas penyembuhan bagi penderita ISPA. 2. Tindak tegas mafia dan korporasi karhutla. 3. Meminta pemerintah memfasilitasi mahasiswa dan relawan ikut dalam penanggulangan karhutla. 4. Copot Kapolda Riau dan Pangdam sesuai dengan janji Presiden RI, Joko Widodo, pungkasnya.
Sementara mahasiswa dari Universitas Riau (UR) dengan jumlah lebih besar menggelar aksi turun kejalan dan berorasi di depan Mapolda Riau, Jalan Sudirman Pekanbaru. Dalam aksi mahasiswa Universitas Riau (UT) ini, membuat arus lalulintas lumpuh total. Mahasiswa memenuhi dua ruas badan jalan hingga tidak ada ruang lagi untuk pengendara melintas. Ditambah lagi kenderaan peserta aksi di parkir di badan jalan, tepatnya didepan kantor RRI dan depan Gedung Bank Indonesia (BI).
Massa menggelar Orasi di depan Mapolda Riau, terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menimbulkan asap tebal menyelimuti wilayah Riau. Mereka juga mendesak Kapolda Riau mundur dari Jabatan sebelum di copot.
Kondisi mulai memanas, saat peserta aksi mencoba mendorong gerbang pintu masuk Mapolda Riau dan saling dorong dengan Polisi anti huru-hara polda Riau yang melakukan pagar betis di pintu masuk sehingga betrokan antara Polisi dengan pendemo tak terhindarkan.
Situasi semakin memanas setelah polisi menyempotkan air dengan menggunakan water cannon ke arah pengunjukrasa. Selain beberapa botol air mineral mulai beterbangan, juga sepatu bahkan batu kearah aparat keamanan. Tampak mahasiswa berhamburan untuk menyelamatkan diri dari semprotan air dari petugas Kepolisian. Dan tidak sedikit mahasiswa yang terinjak-injak oleh temannya saat bentrok dengan petugas kepolisian.
Massa sempat bertindak anarki, dengan mendobrak dan menumbangkan pagar pembatas median jalan. Akibatnya sejumlah pagar besi pembatas yang ada di median jalan Sudirman tumbang.
Tim medis pun langsung diturunkan ke lokasi untuk memberikan bantuan dengan memberikan tabung oksigen kepada mahasiswa yang pingsan dalam aksi tersebut.**(jsn)























































