KAMPAR, SUARAPERSADA.com-Program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE) yang lagi gencarnya dijalankan Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar, Riau, sudah dikenal hingga Malaysia.
“Maka program itu wajib digesa dengan secepatnya untuk masyarakat Kampar, sebab modal untuk pembuatan RTMPE yang diperlukan mayarakat hanya lebih kurang Rp 60 juta,” kata Bupati Kampar Jefry Noer,SH saat memimpin rapat evaluasi percepatan RTMPE dengan para kepala dinas terkait dalam Tiga Zero di Ruang Rapat Bupati Lantai II Kantor Bupati Kampar, Bangkinang, baru baru ini.
Jefry melanjutkan, memang total modal untuk pembuatan RTMPE lebih kurang Rp 120 juta, dimana di RTMPE diperlukan sapi induk sebanyak enam ekor dengan harga Rp 10 juta/ekor total Rp 60 juta, kandang sapi lebih kurang Rp 5 juta, kandang ayam Rp 5 juta, Ayam petelor induk 100 ekor dengan harga Rp 70 ribu/ekor lebih kuirang Rp 7 juta, ditambah bangkok pejantan 10 ekor dengan harga Rp 150 ribu/ekor lebih kurang Rp 1,5 juta, total dari modal diatas lebih kurang Rp 108,5 juta.
Dimana sisa modal lebih kurang Rp 11,5 juta dari Rp 120 juta tersebut adalah untuk pembuatan kolam dan bibit ikan lele sebanyak 6000 ekor, kebun Bawang merah untuk 50 kg dan cabe 50 batang, sayur-sayuran serta ramuan-ramuan untuk pengolahan biourine. Nah modal yang Rp 120 juta diperlukan tersebut masyarakat hanya membutuhkan modal lebih kurang sebesar Rp 60 juta.
Sebab sapi yang enam ekor akan dibantu melalui bantuan sapi bergulir sebanyak 5 ekor serta ditambah 1 ekor bantuan CSR Perusahaan yang ada di Kampar. Maka kita sudah hemat Rp 60 juta rupiah. Sementara untuk ikan lele, bawang merah serta cabe akan dibantu melalu dinas Pertanian dan Dinas Perikanan.
Dengan demikian para alumni atau masyarakat hanya membutuhkan modal usaha dari dana bergulir lebih kurang Rp 60 juta, dengan pinjaman Rp 60 juta masyarakat hanya membayar lebih kurang Rp 1,8 juta/bula selama satu tahun.
Dengan angsuran Rp 1,8 juta/bulan masyarakat tidak akan keberatan sebab nantinya apabila RTMPE bisa dijalankan dengan baik, masyarkat akab bisa menghasilkan uang lebih kurang Rp 10 juta/bulan dari hasil kotoran sapi serta hasil dari telur ayam. Sebeb dalam satu bulan kita anggap menghasilkan urin 500 liter saja dengan harga jual dengan harga jual 1 liter Rp 15 ribu sudah menhgasilkan Rp 7,5 juta.
Di samping itu di buat Biogas kotoran sapi yang enam ekor juga akan menghasilkan 1 smpai 1,5 ton/bulan, anggap saja 1 ton/bulan dengan harga jual Rp 1000 uda menghasilkan Rp 1 juta. Selain itu ada lagi 1 bupuk cair dalam sebulan akan menghasilkan 150 liter, dikali dengan harga Rp 10 ribu juga sudah menghasilkan Rp 1,5 juta.
Di samping itu juga tersedia ayam petelor sebanyak 100 ekor, dalam satu hari ayam tersebut bisa menghasilkan 60/70 butir telor, anggap saja 50 butir/hari dangan harga jual minimal Rp 2000, maka satu bulan sudah Rp 3 juta.
”Nah dengan demikian penghasilan Rp 10 juta/bulan tidak akan kemana dan tidak akan habis untuk memenuhi kbutuhan sehari-hari. Makanya uang dari ahsil anak sepoi selama 3 tahu tadi dinamakan celengan untuk naik haji,” ungkap Jefry.
Sementara untuk tahun ini lebih kurang 400 keluarga akan menerima bantuan sapi, dengan catatan yang menerima bantuan sapi bergulir ini di pastikan dia mmliki lahan paling kurang 600 m untuk lokasi RTMPE.
Makanya ini mulai sekarang dari para Kepala Dinas sampai kasi, serta para Camat samai Kades wajib untuk memulai membuat program RTMPE ini, agar masyarakat bisa mencontoh, sebab kita sejarang betul-betul memang ingin mengentaskan kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh.***(Rilis)





















































