BANGKINANG, SUARAPERSADA.com– Kinerja Forum Komunikasi Diniyah takmiliah (FKDT) Kabupaten Kampar dipertanyakan. Pasalnya, terkesan bungkam terkait persoalan yang sedang dihadapi ribuan guru honorer Agama dibawah naungan Kemenag Kampar. Padahal sebagamana diketahui salah satu Tipoksi FKDT adalah untuk memperjuangkan kesejahteraan para guru honorer Madrasah Diniyah takmiliyah (MDTA). Namun sejak persoalan insentif guru honorer MDTA di Kampar mencuat, Organisasi FKDT Kampar seolah tidak ambil pusing
Sebagaimana diberitakan sebelumnya dan viral di medsos,
sebanyak 3300 orang guru honorer MDTA di Kabupaten Kapar sudah lima bulan, terhitung dari bulan Januari hingga Mei 2021 tidak menerima insenti dari pemerintah Kabupaten Kampar melalui OPD Disdikpora Kampar.
Parahnya lagi salah seorang guru honorer di Xlll Koto Kampar yang mengaku sudah sembilan tidak menerima haknya, sebagaimana dijanjikan pemkab sebelumnya.
Para guru agama ini, tentunya sangat mengharapkan kehadiran FKDT Kampar untuk mencarikan solusi, agar hak-hak mereka di bayarkan oleh pemerintah Kabupaten Kampar sebagaimana dijanjikan sebelumnya. Tetapi apa yang menjadi harapan para guru honorer ini, sepertinya masih menelan pil pahit.
Pasalnya, Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Kampar, Hendri, yang dikonfirmasi media ini, melalui aplikasi whatsApp nya, terkesan menghindar dan berdalih “Coba konfirmasi Humas FKDT,” balas Hendri dalam pesan singkatnya, Jumat (28/5/2021) kemarin.
Mengikuti petunjuk sang Ketua FKDT Kampar ini, upaya konfirmasi dan klarifikasi ke Humas FKDT Kampar, baik melalui pesawat siluler dan pesan singkat. Namun sang Hubungan masyarakat FKDT dimaksud tidak memberi jawapan alias bungkam, sekalipun pesan yang dikirim tampak telah terbaca.
Salah seorang warga Bangkinang yang enggan disebut jati dirinya, sangat menyayangkan sikap Ketua dan Humas FKDT ini. “Apa fungsi FKDT ini, Kok tidak ada perjuangan terhadap nasip para guru agama ,” cetusnya.
Organisasi FKDT dibawah naungan Kementerian agama (Kemenag) Kampar, yang salah satu fungsinya adalah memperjuang kesejahtetaan para guru Agama. “Ini kok malah menghindar sama wartawan,” kritiknya.(Hamdani)






















































