ROHIL, SUARAPERSADA.com – Dalam rangka meningkatkan gizi anak, baru baru ini Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Rokan Hilir menggelar rapat koordinasi bersama seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Dinas Kesehatan (Diskes) dan Kepala Puskesmas se Rokan Hilir.
Dalam rapat koordinasi itu tercatat selama akhir tahun 2018 sebanyak 80.000 anak balita di Kabupaten Rokan Hilir baru terdata 20.000 atau 28,81 persen dalam kondisi stunting.
Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang lama.
Stunting pada umumnya terjadi karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tubuh.
“Seperti perkembangan anak yang tidak normal, mulai dari berat badan maupun tinggi badannya,” katanya menegaskan.
Sekda menegaskan untuk menekan angka itu harus ada langkah -langkah cepat yang dilakukan para kepala OPD baik camat maupun dinas kesehatan.
Dalam rapat koordinasi tersebut Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir berkomitmen menurunkan angka balita penderita gizi kronis. Dari sebelas OPD, Dinas Ketahanan Pangan paling bertanggung jawab terhadap gizi.
Menurut Sekda bagaimana langkah yang dilakukan harus maksimal sehingga tidak ada lagi balita di Rohil mengalami stunting. “Permikiman juga harus ikut mensosialisasikan kepada masyarakat dengan cara menyiapkan rumah tinggal yang layak,” kata Sekda, Surya Arfan.
Lebih jauh, Sekda memaparkan, sejak dalam kandungan hingga melahirkan Dinas Kesehatan perlu melakukan pemantauan perkembangan balita di Kabupaten Rokan Hilir agar para balita terbebas dari perkembangan yang tidak normal dampak dari asupan gizi yang kurang baik.
“Camat yang tahu akan kondisi masyarakatnya jika memang perlu sesuatu bisa mendiskusikan baik kepada dinas kesehatan maupun kepada organisasi perangkat daerah lainnya,” kata Surya menekankan.
Tidak hanya dari pihak pemerintah, Surya Arfan juga meminta kepada para orang tua (ibu) lebih memperhatikan kesehatan anak sejak dalam kandungan hingga melahirkan dengan cara memberikan asupan gizi seimbang, seperti memberi air susu ibu (ASI).
Jika balita terkena stunting akibat kelainan genetika itu hal berbeda. Namun jika anak mengalami stunting padahal awalnya normal harus dilakukan pengobatan dengan menghubungi petugas kesehatan terdekat.
Senada, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Rokan Hilir, Hj Dahniar mengharapkan kerjasama yang baik sehingga stunting atau kekurangan gizi pada balita di Rohil dapat di tekan dengan membuat rencana aksi secara bersama-sama. “Kita akan terus melakukan pendataan balita yang terdampak stunting di Kabupaten Rokan Hilir agar pertumbuhan anak dapat berjalan secara normal,” kata Kadiskes, Dahniar.**(Man)
























































