PT SSS Ditutup, 500 Karyawan Terancam ‘Nganggur’

0
5705

INHU, SUARAPERSADA.com – Diperkirakan sekitar 500 karyawan akan menjadi pengangguran dan akan menjadi masalah sosial pasca ditutupnya Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT Sanling Sawit Sejahtera (PT SSS), di Desa Rimpian, Kecamatan Lubuk Batu Jaya Kab Inhu Riau, beberapa hari lalu.

Penutupan PKS ini berawal dari kedatangan beberapa oknum yang diduga melakukan aksi provokasi menolak keberadaan pabrik tersebut. Namun, belakangan oknum tersebut diketahui bukan berasal dari Desa Rimpian, melainkan dari Desa lainnya dengan tujuan melakukan aksi-aksi yang diduga dilatar belakangi persaingan usaha yang sama. Dalam aksinya orang-orang tersebut diketahui mengusung isu yang menyudutkan PT SSS.

Sementara diketahui berdasarkan keterangan Anggota DPRD Inhu, dan Pemkab Inhu, beberapa waktu lalu telah melakukan sidak ke lokasi pabrik yang dipermasalahkan.

Berbeda dari informasi yang beredar, dalam sidak tersebut diketahui PKS PT. SSS ternyata telah memiliki semua bentuk perizinan dan dokumennya telah lengkap. Atas hal itu, pemerintah kabupaten Inhu tidak menemui adanya masalah apapun dalam proses pembangunan pabrik Kelapa Sawit tersebut. Bahkan Pengadilan Tinggi Riau pun sudah memenangkan perusahaan PT. SSS dari gugatan pihak-pihak yang keberatan.

Belakangan diketahui, perusahaan yang baru beroperasi itu pun tutup. Namun baru beberapa hari tidak beroprasi, ratusan buruh kehilangan pekerjaan.

Terkait hal tersebut, sekitar 500 buruh yang dinaungi beberapa organisasi serikat buruh mendatangi Kantor Dinas Ketenaga Kerjaan dan DPRD Inhu untuk menyampaikan aspirasi.

“Perusahaan sudah tutup selama tiga hari hingga hari ini. Dampaknya masyarakat kehilangan mata pencarian sebagai buruh maupun karyawan perusahaan. Terkait persoalan yang menimpa perusahaan, buruh tidak tahu,” ungkap Ketua Serikat SPTD Inhu, Zulfendy, Senin (8/3/2021).

Menurut Zulfendy, 500 buruh yang menggantungkan hidup di pabrik Kelapa Sawit tersebut harus merasakan derita akibat tidak bekerja.

Hal itu juga disampaikan oleh salah satu wakil ketua serikat pekerja di Pabrik tersebut, Sapri, kepada awak media ini mengatakan, hari ini, pihaknya bersama ratusan buruh dari PKS PT. SSS mendatangi Kantor Dinas tenaga kerja dan DPRD Inhu untuk meminta pemerintah Inhu dan dewan dapat memfasilitasi perusahaan agar secepatnya dapat beroperasi kembali.

“Keluarga kami butuh makan, khususnya masyarakat Desa Rimpian, yang saat ini turut menjadi korban kehilangan pencaharian. Selain buruh di PKS, ratusan warga juga menjajakan dagangannya di seputar pabrik, kini sudah tutup berhari-hari, mohon pemerintah fasilitasi hal ini,” terang Sapri.

Sapri, yang merupakan wakil ketua serikat di pabrik itu juga menegaskan bahwa permasalahan ini dipicu oleh orang-orang yang hanya ingin mementingkan diri sendiri, karena merasa tersaingi dengan hadirnya perusahaan baru di wilayah tersebut.

“Ini tidak boleh dibiarkan. Pemerintah harus segera bertindak, kami ini warga di Desa Rimpian, butuh hidup. Perusahaan juga butuh aman dan nyaman dalam berinvestasi, apalagi ini masa Pandemi Covid 19, iklim usaha harus di prioritaskan, dan di lindungi oleh Pemerintah,” beber Sapri.

Menurut Sapri dan rekan-rekannya, ratusan buruh yang turun ke Kantor Dinas Tenaga kerja dan DPRD Inhu mendapat respon positif dan sangat didukung oleh kedua lembaga tersebut.

“Baik pak, pihak dinas Tenaga kerja sangat mendukung aksi ini, karena mereka (Disnaker_red) tidak mau melihat warganya menganggur, begitu pulak dengan ketua DPRD Inhu, mengatakan akan segera bertindak dan mengagendakan hearing untuk penyelesaian permasalahan ini,” pungkas Sapri.**(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here