SELAIN kekayaan alam yang berlimpah, Riau juga ternyata memiliki potensi pariwisata yang cukup besar dan bisa dipromosikan hingga ke manca Negara. Untuk itu sejalan dengan era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir tahun 2015, Pemerintah Provinsi Riau akan mengepakkan sayap pada sektor pariwisata berbasis budaya.
“Riau sudah terkenal berkat sektor migas dan perkebunan. Kita perlu membuat terobosan baru dalam menghadapi MEA ini,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman.
Terobosan baru yang dirasa tepat ketika ditengah-tengah MEA ialah dengan mengangkat nama Riau melalui wisata berbasis budaya. Hal ini dikarenakan MEA akan diwarnai puluhan juta masyarakat Asean yang akan berpariwisata, baik itu berbasis olahraga maupun budaya.
“Kita akan ambil peluang di sektor wisata berbasis budaya. Salah satunya kita punya Istana Siak,” ujar Plt Gubri.
Menurut Arsyadjuliandi Rachman, Riau memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, hanya saja untuk mengangkatnya perlu gencar dilakukan pemasaran. Masih banyak wisata-wisata Riau yang belum dikenal masyarakat luas karena kurangnya promosi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau saat ini gencar mempromosikan pariwisata di Riau Dengan konsep wisata berbasis budaya.
Peringkat 13 di Indonesia
Baru-baru ini Kementrian Pariwisata RI telah melakukan penilaian dan memetakan kekuatan sektori wisata seluruh provinsi di Indonesia.
Dari data yang di ekspos Sekretaris Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI, Riau menempati posisi ke 13.
Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat Provinsi Riau baru saja bangun dari tidurnya dan mulai berbenah untuk memasarkan potensi sektor pariwisata ini.

“Kita terus mencari celah dan solusi agar potensi Riau ini terus berkembang dan dikenal,” ungkap Kepala Disparekraf Riau, Fahmizal Usman.
Budaya sebagai Objek Wisata
Kebudayaan masyarakat Riau yang sangat kental dengan ciri khas melayu, akan menjadi terobosan baru sektor pariwisata. Dimana beberapa iven budaya yang telah dilaksanakan dibeberapa kabupaten yang ada di Riau ternyata mampu meningkatkan kunjugan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Seperti wisata budaya Pacu Jalur yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Kuansing. Budaya lomba pacu jalur yang telah berumur ratusan ini biasanya digelar pada bulan Agustus. Konon pada jaman penjajahan Belanda, pacu jalur diadakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina. Namun saat ini lomba pacu jalur dilaksanakan untuk memeriahkan HUT RI. Event tahunan ini telah menarik minat wisatawan untuk berbondong-bondong mendatangi kabupaten Kuansing.

Selain itu kebudayaan yang tak kalah menarik perhatian adalah ritual bakar tongkang. Ketika tradisi ini dilaksanakan, kota Bagansiapiapi akan dipadati komunitas Tionghoa. Perantau sukses yang tersebar di Eropa, Amerika, Australia maupun Asia akan berbondong-bondong pulang untuk mengikuti ritual tersebut.
Riau juga memiliki situs budaya Budha, yakni Candi Muara Takus yang terletak di Kabupaten Kampar. Situs ini setiap bulannya dikunjungi 2.500-3.500 orang. Para Bikshu se-dunia sering datang dan melakukan kongres serta ritual agama Budha di Candi Muara Takus. Situs ini menurut sejarah merupakan situs awal Kerajaan Sriwijaya.
Destinasi menarik lainnya yang dimiliki Riau adalah, situs Kerajaan Melayu, Kerajaan Siak Sri Indrapura. Istana yang dirancang arsitek asal Jerman ini dibangun oleh Raja Siak XI pada 1889 dan rampung pada 1893. Luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi di tengah lahan seluas 32.000 meter persegi dengan ciri khas Melayu, Eropa, India dan Timur Tengah.
Dan masih banyak lagi potensi pariwisata di Riau yang saat inibelum terekspos secara maksimal, ini membangkitkan optimisme bahwa kedepan, provinsi Riau akan mampu bersaing dengan provinsi lain dalam sektor pariwisata.**(Adv)






















































