
DUMAI, SUARAPERSADA.com – Sampai hari ini, masalah kelangkaan Gas Elpiji ukuran 3 Kg di Kota Dumai masih jadi polemik.
Anehnya, kendati dari beberapa kali SIDAK (Inspeksi Mendadak) antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) beserta Pengurus Badan Pengawasan (BP) Migas dan Dinas Perdagangan Perindustrian (Disperindag) Kota Dumai telah diketahui kelangkaan Gas Elpiji ukuran 3 Kg tidak terlepas dari banyaknya para oknum pengusaha Rumah Makan dan café bertaraf elit di Kota Dumai menggunakan Gas Elpiji Ukuran 3 Kg sebagai sarana memasak dagangannya. Namun, menurut warga ke langkaan Gas Elpiji ukuran 3 Kg di Dumai masih belum teratasi.
Atas permasalahan ini, timbul kesan kalau janji janji tegas, akan menindak oknum yang menyalahgunakan Gas bersubsidi yang disampaikan pihak pihak berkompeten itu “hanya omong kosong”.
Seperti halnya penuturan salah seorang tokoh masyarakat Kota Dumai berinitial J Sinaga. Kepada suarapersada.com tokoh masyarakat yang berdomisili di Kecamatan Dumai Kota ini mengaku, bahwa dirinya beserta warga lainnnya di Kota Dumai masih banyak yang mengeluh akibat tidak adanya keseriusan piahak anggota DPRD dan Pemerintah Daerah Kota Dumai untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat ekonomi kecil dan menengah di Kota Dumai.
Diantaranya menurut J Sinaga, termasuk permasalahan kelangkaan Gas LPJ ukuran 3 Kg, PKL (Pedagang Kali Lima), lahan wajib parkir, dan kegiatan lainnya yang bersifat merugikan dan menguntungkan peribadi seseorang.
Menurut J Sinaga, janganlah janji janji muluk yang pernah diucapkan oleh oknum Wakil Rakyat dan Pemerintah Kota Dumai hanya Life Service
Hal senada juga di sampaikan T Br Sihombing, IRT (Ibu Rumah Tangga) yang berdomisili di Kelurahan Dumai Timur ini mengaku, nyaris 4 kali dalam sebulan harus pontang panting untuk mencari dan membeli Gas ukuran 3 Kg.
“Karena saya memasak menggunakan kompor gas. Makanya 4 kali sebulan, saya harus pontang panting mencari Gas Elpiji ukuran 3 Kg. Memang di Kelurahan Teluk Binjai ini ada beberapa tempat agen yang menjual Gas Elpiji ukuran 3 Kg. Tapi terlambat setengah jam aja untuk mendatangi pangkalan penjual Gas Elpiji itu, pihak pangkalan pasti bilang, Gas habis,” ujar T Br Sihombing di kediamannya, Sabutu (04/11/18)
Dan untuk mendapatkan Gas Elpiji yang di butuhkannya, wanita paruh baya ini katanya harus rela berkeliling dan merogoh koceknya Rp 20 -24 ribu per tabung. “Walau harganya mahal dan saya harus pergi menjemputnya ke tempat yang jauh, itu harus saya lakukan. Yah, daripada tidak memasak. Mau tidak mau harus dilakukan,” keluh T Br Sihombing mengakhiri perbincangannya dengan suarapersada.com.**(Mulak Sinaga)





















































