KABUPATEN Kampar merupakan Serambi Mekahnya Provinsi Riau yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi Islam yang mengakar. Perpaduan tradisi budaya dan Islam menghampiri
hampir seluruh aktivitas kegiatan masyarakat kampar.
Ada sebuah tradisi yang cukup unik di masyarakat Kampar yaitu “Aghi Yayo Onam ” atau Hari Raya Enam 1438 H. Hari raya enam merupakan hari raya setelah melaksanakan puasa enam hari di bulan syawal atau tepatnya pada tanggal 8 syawal.
Sebagian besar masyarakat Kampar lebih menganggap dan meriahkan hari raya enam dibandingkan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal. Hari raya enam ini menurut ninik mamak setempat merupakan hari raya berbagi dan bersilaturrahmi antar sesama baik itu sesama warga setempat maupun dengan warga perantau yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya.
Pada perayaan Hari Raya Enam, perantau asal kampar wajib pulang kampung, dan harus membawa semua anggota keluarganya dari rantau untuk memperkenalkan sanak saudaranya di kampung halaman.

Setiap pelaksanaan acara hari raya enam ini biasanya selalu diisi dengan acara tradisi dan hiburan. Seperti pelaksanaan tahun ini, dari paginya semua warga tersebut berkumpul di salah satu mesjid kemudian mengarak-arak anak yatim kemudian berkumpul dipinggir sungai kampar sambil melakukan makan bersama anak yatim dan seluruh warga perantau yang datang.
Setelah acara jamuan makan diadakan, selanjutnya diadakan pesta rakyat bagi anak-anak generasi muda untuk mempererat tali persaudaraan diantara mereka dengan acara pacu goni dan panjat pinang serta tarik tambang.
Dibeberapa desa di Kecamatan Bangkinang, Kecamatan Tambang, Kecamatan Kuok dan tempat lainnya di Kabupaten Kampar, di Hari Raya Enam mereka melakukan tradisi ziarah kubur, dan ziarah kubur ini hanya dilakukan oleh kaum laki – laki. Tradisi Ziarah kubur ini yang bertujuan untuk mendoakan para arwah / roh dari orang – orang yang telah meninggal dunia sehingga jiwanya merasa tenang dan tentram didalam kubur.
Ziarah Kubur ini didasari tradisi agama dan kearifan lokal masyarakat Kampar. Dari tradisi agama, ziarah kubur merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW, karena dengan memberikan doa kepada orang – orang yang telah meninggal dunia mereka percaya dapat memberikan perlindungan dalam kehidupan mereka, dan dengan berziarah kubur, mereka akan lebih mengingat mati dengan demikian dapat meningkatkan keimanan kepada Allah seolah – olah mereka akan mati besok pagi.
Sedangkan dari kearifan lokal atau tradisi adat istiadat ziarah kubur ini merupakan suatu kebiasaan ( tradisi ) yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu tradisi ziarah kubur juga dapat mempererat hubungan diantara sesama kaum kerabat yang sudah lama terhenti karena kesibukan masing – masing.
Gubernur Provinsi Riau Arsyad Juliandi Rachman, akan menjadikan tradisi hari raya puasa enam yang digelar warga Bangkinang Kabupaten Kampar sebagai daya tarik wisata budaya.
“Saya datang ke sini mau tahu situasinya langsung,” kata Gubernur Riau Arsyad Juliandi Rachman terlihat kagum dengan tradisi ini karena sudah berlangsung puluhan tahun.

“Kapan mulainyapun tidak tahu, ini harus dijaga dan diteruskan,” tegas Andi. Andi menilai selain mengandung nilai ibadah tradisi ini juga merupakan ajang silahturahmi.
“Yang kumpul saya dengar para perantau termasuk yang sudah diluar negeri pulang semua,” katanya menerangkan.
Andi mengaku memang berniat mengangkat tradisi “raya puasa enam” ini menjadi salah satu daya tarik kunjungan para wisatawan yang bisa dijual hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Ia bahkan memberitahukan sengaja membawa Kepala Dinas Pariwisata dan segala perlengkapannya untuk melihat apa yang bisa dijual jadi daya tarik bagi wisatawan.
“Saya datang sengaja pakai baju begini,” kata Gubernur sambil mempromosikan bajunya bertuliskan “home land of melayu”.
Kepala Dinas Pariwisata datang juga membawa perlengkapan. Jadi kita akan angkat ini,” tegasnya lagi. Caranya sambung dia dengan promosi dan mencari sponsor. Nanti kebijakannya akan digodok oleh dinas pariwisata dan dipersiapkan.
“Mudah-mudahan ada yang mau pakai tradisi ini untuk iklannya seperti yang digunakan Pertamina dalam pulang kampung Batobo, itu juga berasal dari Kampar,” katanya mencontohkan.
Ia juga menambahkan kegiatan ziarah dan makan bersama merupakan acara menarik. “Bukan saja makan di mesjid-mesjid termasuk dirumah ini menarik,” katanya menambahkan.
Hari Raya Enam atau yang biasa disebut dengan Ayo Zora digelar setelah dilaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Untuk lebih bermaknanya puasa tersebut, Warga melakukan ziara ke pemakaman. Uniknya Ziara kubur dilakukan secara massal oleh kaum pria, sementara kaum ibu menyiapkan hidangan makan siang untuk untuk peziara setelah lelah berziara mengelilingi pemakaman.

Ziara kubur massal ini, memiliki banyak makna diantaranya mendoakan arwah para leluhur yang sudah terlebih dahulu berpulang kepada sang pencipta, selain itu, sebagai perenungan bagi yang hidup bahwa semuanya akan mati. Saat ini, mereka yang berziara dan “besoknya” dia yang akan diziarahi.
Ziara kubur massal tersebut, juga dijadikan sebagai ajang silaturrahmi bagi warga, karena dengan berziarah, kesempatan atau momen yang tepat untuk bertemu dengan saudara dan karib kerabat. Bahkan bagi perantau momen ziara kubur ini dijadikan untuk memanggilnya pulang kampung.
Dibeberapa tempat di Kabupaten Kampar ziarah kubur pada hari raya enam, diawali dengan berkumpul disuatu tempat kemudian bersama- sama melakukan ziarah, berkeliling dari satu kuburan ke kuburan lainnya. Dan ziarah kubur biasanya ditutup dengan makan bersama ”Makan Bajambau”makan bersama di teras-teras mesjid atau mushola.(Adv.hmsriau)























































