Konsistensi Terhadap Kode Etik Jurnalistik, Menjamin Keberlangsungan Media

0
506

SELATPANJANG, SUARAPERSADA.com – Kepala Bagian Humas Kabupaten Kepulauan Meranti, H.Nasruni SIP. MSi minta kepada seluruh wartawan yang bertugas di Kepulauan Meranti, agar senantiasa konsisten terhadap kode etik jurnalistik serta komit terhadap kemajuan dan pembangunan daerah.

Dengan demikian, media tersebut akan langgeng dan berkesinambungan serta mampu menambat hati para pembacanya.

Wartawan dalam menyuguhkan berita sangat diharapkan tetap konstruktif guna membangun peradaban maupun kemajuan masyarakat.

Jadi wartawan tidak hanya jago menginformasikan terjadinya sebuah peristiwa, namun lebih jauh harus mampu menyuguhkan berita pencerdasan termasuk kemampuan menggali atau membangkitkan batang terendam.

Karena peran media cukup strategis baik dalam menyambut maupun mengawal kemajuan zaman terutama perkembangan teknologie saat ini.

Dengan demikian media menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari berbagai sendi kehidupan masyarakat, pemerintah maupun media itu sendiri,” ungkap Kabag Humas Pemkab Meranti, kepada suarapersada.com, di ruang kerjanya siang tadi.

Dikatakannya, untuk itu media massa harus mengedepankan rambu-rambu atau kode etik jurnalistik sesuai UU Pokok Pers.

Dan jika menyimpang dari ketentuan tersebut dipastikan akan menabrak norma-norma dan etika jurnalistik itu sendiri. Dan jika itu terjadi,akan berdampak buruk bagi pembaca maupun terhadap media itu sendiri.

Untuk itu menurut dia, profesi wartawan adalah profesi yang harus dilakoni oleh orang-orang yang profesional. Sebab peran wartawan di tengah masyarakat  menjadi tempat bertanya, bahkan terhadap sesuatu yang mungkin akan terjadi.

“Inilah kelebihan wartawan sehingga kehadirannya ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan melalui karya jurnalistiknya.

Tugas wartawan juga menjadi mulia jika mampu memberikan pencerahan sekaligus sebagai penyambung lidah terhadap berbagai kebutuhan masyarakat bahkan juga bagi pemerintah..

Sehingga pers diibaratkan bagai peran matahari, yang memberikan penerangan. Sehingga tanpa kehadirannya maka dunia akan terasa gelap,”sebut dia.

Ditambahkannya, namun demikian juga tidak bisa dinafikan bahwa kadang ada oknum wartawan yang berpijak di luar ketentuan. Kebebasan yang diperolehnya justru disalahgunakan. Sehingga ada yang mengatakan kebebasan tersebut menjadi kebablasan.

Itu terjadi karena menyuguhkan berita atau informasi, yang destruktif sehingga membuat keresahan. “Inilah yang kita harapkan tidak sampai terjadi di Meranti, sehingga  keberadaan media di mata masyarakat akan tetap dipercaya,”sebut dia lagi.” sebut dia.**(nes)

Tinggalkan Balasan