Karyawan PT MSSP saat sedang orasi di dalam perkebunan

SIAK, SUARAPERSADA.com – Puluhan karyawan PT. MERIDAN SEJATI SURYA PLANTATION (PT MSSP) melakukan aksi unjuk rasa dengan cara mogok kerja.

Sudah satu bulan lebih puluhan karyawan pemanen PT MSSP yang berlokasi di kecamatan Tualang Kabupaten Siak ini berhenti bekerja karena hak dan tuntutannya diabaikan pihak perusahaan.

Aksi mogok kerja ini diduga dipicu oleh pembentukan Pimpinan Unit Kerja (PUK) oleh karyawan PT MSSP yang dinaungi Serikat Pekerja Mitra Berseri Indonesia (SPMBI).

Selama ini perusahaan memiliki serikat tersendiri yang sudah ditentukan oleh pihak perusahaan, sehingga karyawan harus menerima pemotongan gaji tiap bulan oleh pihak perusahaan sebesar Rp 10.000. Tapi karyawan tidak pernah merasa sebagai anggota serikat pekerja yang sudah di tentukan oleh pihak PT MSSP itu. Sehingga karyawan berinisiatif untuk membuka serikat pekerja bidang perkebunan yang baru. Namun, persoalan ini berdampak bagi karyawan yang bergabung di serikat pekerja yang baru itu.

Hal ini diungkapkan koordinator aksi bernama Felix yang juga sebagai ketua PUK SPMBI di PT MSSP itu. Menurutnya pihak perusahaan sudah sangat semena-mena terhadap pihaknya karena telah menjadi pengurus serikat buruh perkebunan yang baru dibentuknya itu.

“Kronologis nya ini karena kami telah membentuk serikat buruh yang baru pada tahun 2018 yang lalu yang bernama Serikat Pekerja Mitra Berseri Indonesia. Saya sebagai ketua PUKnya. Tapi karena kami dirikan serikat ini, kami mau dimutasikan sama perusahaan. Bonusan kami pun tidak dikasih,” ujar nya di lokasi PT MSSP, Jumat (19/07/2019).

Ia (Felix) menambahkan secara rinci intimidasi yang dialami pihaknya akibat ihwal pembentukan serikat baru ini. Hingga adanya dugaan pihak perusahaan memperkerjakan anak di bawah umur.

“Istri kami bekerja tanpa upah, kalau tidak bawa istri kami tidak boleh memanen. Anak anak di bawah umur juga diperkerjakan untuk mencapai target basis. Rata-rata anak karyawan pulang sekolah langsung ke ancak (area kerja). Seperti anak saya umur lima tahun saya bawa ke ancak. Karena mereka (pihak perusahaan) memaksa kalau tidak bawa Helper tidak boleh memanen,” urai Felix sedikit emosi.

Lanjut Felix menjelaskan, pihaknya sudah melaporkan hali ini ke pihak Disnaker provinsi Riau melalui UPT kabupaten Siak. Bahwa dampak dari pembentukan pengurus serikat baru itu membuat pihaknya diintimidasi secara pribadi. Mereka tidak dapat gaji hingga pengusiran dari perusahaan. 

Padahal karyawan PT MSSP ini menuntut apa yang menjadi hak bagi mereka yaitu berserikat dan berkumpul kemudian mengembalikan apa yang menjadi hak mereka.

“Kami menuntut hak kebebasan berorganisasi,  juga bonus kami tahun 2018 yang lalu dan jangan kami dimutasikan, kami hanya ingin berorganisasi,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan ketua umum SPMBI. Yasona Giawa membenarkan bahwa anggotanya yang baru dibentuk di PT MSSP itu mengalami intimidasi yang serius.

Saat di konfirmasi media ini Yasona menuturkan, mulai dari tekanan untuk dimutasikan hingga diskualifikasi sebagai karyawan serta pemaksaan karyawan untuk ikut serikat yang sudah di tentukan oleh pihak perusahaan menjadi atensi pihaknya.

“Banyak keluhan yang lain, mereka dipaksa untuk masuk serikat perusahaan. Sementara kebebasan berserikat dan berkumpul itu dijamin oleh undang-undang. Tetapi, mereka diwajibkan masuk serikat Pekerja milik perusahaan tanpa ada kartu tanda anggota. Padahal Gaji di potong tiap bulan, makanya kami dari SPMBI membentuk pengurus baru di perusahaan itu. Jadi ini lah akar permasalahan ini,” papar Yasona.

Yasona juga membeberkan peristiwa naas yang di alami oleh seorang karyawan PT MSSP bernama Firman Jaya Gulo. Adanya dugaan tindak Pidana yang dilakukan pihak perusahaan yaitu mengambil barang barang karyawan tersebut dengan cara paksa.

“Kemudian sebelum pihak Disnaker datang memverifikasi pada bulan Maret lalu, mereka mengusir secara paksa salah satu karyawan yang bernama Firman Jaya Gulo. Pada waktu itu dia tidak ada di rumah dan rumahnya tertutup. Tetapi mereka (pihak perusahaan) mendobrak (pintu), diambillah semua barang barang dari dalam. Bukan hanya itu, uang puluhan juta (di ambil) dan satu unit sepeda motor juga di ambil. Hingga sekarang tidak tahu dimana barang barang itu, kita punya bukti semua,” ujar yasona.

Saat di tanya apakah sudah melaporkan kepada aparat kepolisian, Yasona mengeluh karena pihak kepolisian tidak menanggapi pengaduan pihaknya.

“Kita sudah melaporkan ke Polres Siak, tapi pihak Polres tidak menerima. Katanya masalah itu internal perusahaan,” terangnya.

Sementara itu, Kandir Aldo diketahui sebagai Humas di PT. MSSP saat di hubungi oleh crew suarapersada.com terkait persoalan ini tidak dapat memberikan komentar. 

“Maaf pak saya sedang ada meeting, manager Humas nya pak Asmadi,” ujarnya sambil menutup handphonenya, Senin (22/07/2019).

Hingga berita ini dirilis, belum ada klarifikasi pihak perusahaan terkait tudingan pihak karyawan PT. MSSP.**(Jack)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here